Berisiknya Suara Ketel Kue Putu Ayu Sebanding Kelezatannya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Suara mendenging dari ketel uap proses mengukus kue putu ayu terdengar hingga puluhan meter. Bagi anak-anak pedesaan suara berisik tersebut sebagai penanda pedagang kue atau jajanan putu ayu melintas.

Hendra, pedagang putu ayu asal Kalianda Lampung Selatan (Lamsel) menyebut sengaja berjualan sejak sore hingga malam.

Kue putu ayu dengan ciri khas suara berisik menurutnya memiliki rasa lezat. Bentuknya mungil berwarna dominan hijau pandan, putih parutan kelapa dan warna merah pada gula.

Menjual jajanan jaman dulu (jadul) tersebut menurut Hendra merupakan kuliner generasi ketiga dalam keluarganya. Sebab sejak sang kakek hingga dirinya sebagai cucu memilih melestarikan jajanan putu ayu.

Sebagai kue basah yang unik, Hendra menyebut memilih menjualnya saat sore hingga malam. Sebab kue yang nikmat disajikan dalam kondisi hangat bisa digunakan untuk camilan saat kumpul keluarga. Sembari menonton televisi, menyeruput teh hangat jajanan lezat itu bisa mengenyangkan. Dibuat dalam tabung pipa membuatnya terlihat padat.

“Kalau generasi tua tentu akan mengingat bahwa jajanan putu ayu selalu ditunggu di tepi jalan saat sudah ada suara mendenging khas ketel uap dipastikan pedagang kue ini melintas, mudah dikenali sehingga pelanggan kerap sudah siap piring,” terang Hendra saat ditemui Cendana News, Sabtu (1/8/2020).

Tetap berjualan pada hari kedua Iduladha 1441 Hijriah justru memberinya keuntungan. Sebab sebagian warga sedang banyak berkumpul bersama keluarga untuk silaturahmi. Ia membawa bahan sebanyak 5 kilogram untuk pembuatan kue putu ayu. Bahan pembuatan putu ayu meliputi tepung beras, air, daun pandan, gula merah, parutan kelapa.

Berkeliling dari desa ke desa ia menyebut berangkat pukul 17.00 dan bisa pulang sekitar pukul 21.00 bahkan bisa lebih cepat. Proses pembuatan putu ayu kerap menjadi tontonan bagi anak-anak yang penasaran. Sebab suara berisik ketel yang mengandalkan uap air menyerupai mesin kapal uap. Ia bisa mejelaskan kepada anak-anak prinsip kerja mesin uap yang mematangkan kue.

“Sembari berjualan kue bisa edukasi anak-anak manfaat air dan uap yang bisa menjadi alat untuk membuat kue,” cetusnya.

Semua bahan kue putu ayu telah diraciknya dari rumah. Saat ada pesanan ia akan membuatnya sesuai takaran dengan pipa. Adonan yang dimasukkan dalam pipa akan menutupi lubang yang di bawahnya merupakan air mendidih.

Saat ditutup maka lubang yang disiapkan akan berbunyi sehingga menimbulkan suara nyaring. Butuh waktu sekitar 10 menit hingga kue putu ayu matang.

Pelanggan menurutnya memilih membeli dalam jumlah sesuai kebutuhan. Ia menjual satu kue putu ayu Rp1.000 per buah. Pembeli kerap memesan hingga Rp20.000 untuk camilan saat berkumpul bersama keluarga. Aroma wangi dan disajikan saat hangat membuat ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp500 ribu sekali berkeliling.

Robani, salah satu pelanggan mengaku menyukai putu ayu hangat. Sebab dengan aroma wangi akan meningkatkan selera memakan kue putu. Aroma pandan berpadu dengan warna hijau dan taburan parutan kelapa yang gurih semakin lezat saat gula di dalamnya muncrat. Gula yang ada di dalam kue putu ayu kerap akan lumer efek terkena panas.

Robani (kanan) mengambil pesanan kue putu ayu yang selesai dibuat, Sabtu (1/8/2020) – Foto: Henk Widi

“Rasanya lezat cocok dimakan bersama teh hangat saat berkumpul bersama kerabat,” papar Robani.

Penyuka kue putu bernama Hilarion di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan menyebut menyukai aromanya. Saat membeli siswa kelas 5 SD tersebut kerap melihat dari dekat proses pembuatannya.

Suara nyaring dan berisik memekakkan telinga disebutnya cukup sesuai dengan rasa lezat kue putu ayu. Membeli seharga Rp10.000 ia bisa menghabiskan dua buah sisanya dimakan oleh sang adik dan kedua orangtuanya.

Lihat juga...