Biar Tidak Alami Kerugian, Petani di Pessel Didorong Ikuti Program AUTP

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PESISIR SELATAN — Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, masih berharap agar para petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Keinginan dari pemerintah ini, untuk memberikan rasa aman apabila mengalami gagal panen dari berbagai persoalan.

Kepala Dinas Tanam Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Nuzirwan, belum lama ini/Foto: dokumen

Kepala Dinas Tanam Pangan Hortikultura dan Perkebunan, Nuzirwan mengatakan, tidak dapat dipungkiri bahwa usaha tani padi dihadapkan pada resiko ketidakpastian yang cukup tinggi, antara lain kegagalan panen yang disebabkan perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit/organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menjadi sebab kerugian usaha petani.

Menurutnya, untuk menghindarkan dari keadaan tersebut, maka pemerintah saat ini memberikan solusi terbaik berupa program AUTP, yang diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap resiko ketidakpastian dengan menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi.

“Saya menilai bila hal ini jalan, maka dapat memberikan jaminan perlindungan, sehingga petani dapat membiayai pertanaman di musim berikutnya,” katanya, Senin (10/8/2020).

Resiko yang dijamin dalam AUTP meliputi banjir, kekeringan, serangan hama dan OPT. Hama pada tanaman padi antara lain, wereng coklat, penggerek batang, walang sangit, keong mas, tikus dan ulat grayak.

Sedangkan penyakit pada tanaman padi antara lain, tungro, penyakit blas, busuk batang, kerdil rumput, dan kerdil hampa. Serangan hama dan penyakit ini akan mengakibatkan kerusakan yang dapat mengakibatkan gagal panen sehingga petani akan mengalami kerugian.

“Waktu pendaftaran dapat dimulai paling lambat satu bulan sebelum musim tanam dimulai. Kelompok tani didampingi PPL dan UPTD kecamatan mengisi formulir pendaftaran sesuai dengan formulir yang telah disediakan,” sebut dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pesisir Selatan, Alpriyendri, mengatakan, belum lama ini pihaknya juga telah melakukan sosialisasi terkait program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), tepatnya di Kecamatan Lengayang.

Dikatakannya, persoalan hasil produksi petani bisa dikatakan belum bisa dipastikan sampai benar-benar telah melakukan panen. Sebab bila sehari jelang panen saja, maka hal itu bisa menimbulkan kerugian yang besar bagi petani.

Demi menghindari kondisi yang demikian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pesisir Selatan, memberikan solusi terbaik, salah satunya adalah melalui program AUTP tersebut.

“Sebab asuransi ini akan memberikan perlindungan terhadap resiko kerugian,” ujar dia.

Menurutnya, bila petani telah mengikuti asuransi itu, maka bila terjadi suatu hal yang dapat merugikan di kemudian hari, maka pihak asuransi akan memberikan jaminan kepada petani untuk kembali mendapatkan modal kerja dari usaha tani yang dilakukan melalui klaim asuransi.

Dia menjelaskan bahwa Kecamatan Lengayang hingga saat ini masih tercatat sebagai salah satu lumbung padi di Pesisir Selatan. Mengingat jadi lumbung pangan, maka jaminan terhadap masyarakat yang memiliki usaha di sektor pertanian tanaman padi ini perlu mendapat perhatian.

Dijelaskannya bahwa premi asuransi tersebut adalah sebesar 3 persen. Angka itu berdasarkan besaran biaya input usaha tani padi sebesar Rp 6 juta per hektar setiap musim tanam, yaitu sebesar Rp 180 ribu.

“Dari jumlah itu yang disubsidi oleh pemerintah adalah sebesar 80 persen, atau sebesar Rp 144 ribu. Karena telah disubsidi, sehingga petani hanya dikenakan sebesar Rp36 ribu saja per hektarenya setiap kali musim tanam,” tutup Alfri.

Lihat juga...