BMKG: Musim Hujan di Indonesia Dimulai September

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan mulai terjadi di Indonesia pada bulan Septermber dan akan sedikit lebih basah karena adanya La Nina intensitas lemah hingga sedang. Dan dengan masuknya masa pancaroba, BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada dan selalu memantau peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Pusat Meteorologi Publik BMKG, Miming Saepudin, M.Si, menyatakan, berdasarkan hasil pengamatan terpantau sudah 85 persen wilayah Indonesia yang mengalami kemarau. Sementara sisanya masih mengalami musim hujan. Yaitu, sebagian besar Pulau Kalimantan, sebagian Maluku dan sebagian kecil Papua, Sulawesi dan Sumatera.

“Secara umum, 64,9 persen mencapai puncak musim kemarau pada Agustus ini. Dan hanya 18,7 persen yang akan mencapai puncak musim kemarau pada September. Curah hujan rendah masih dapat terjadi di sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Papua Bagian Selatan,” kata Miming saat dihubungi, Senin (31/8/2020).

Untuk daerah yang diperkirakan akan mengalami kekeringan adalah daerah Nusa Tenggara dengan status Awas dan Siaga. Sementara sisanya masih aman.

“Pada September hingga November diperkirakan akan terjadi puting beliung, petir dan hujan es dengan September sebagai titik awal periode musim pancaroba. Dan gelombang tinggi antara 2 hingga 4 meter berpotensi terjadi di pantai selatan Jawa,” ujarnya.

Potensi suhu cukup panas masih perlu diwaspadai pada bulan September mengingat posisi semu Matahari di sekitar equator secara periodik terjadi pada pertengahan September dengan kisaran suhu maksimum normal.

Untuk La Nina, Kepala Subbidang Peringatan Dini Iklim, Supari, menyatakan akan berpeluang terjadi dengan intensitas lemah hingga sedang.

Kepala Subbidang Peringatan Dini Iklim Supari saat dihubungi, Senin (31/8/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Beberapa pusat layanan iklim dunia seperti Biro Meteorologi Australia, Badan Meteorologi Jepang, NOAA Amerika Serikat juga memprakirakan peluang La Nina dengan intensitas bervariasi dari lemah hingga sedang,” kata Supari saat dihubungi terpisah.

Secara umum, ia menyatakan, jika terjadi La Nina maka untuk bulan September hingga November wilayah tengah dan timur Indonesia akan mengalami kondisi yang lebih basah.

“Untuk Desember hingga Februari dimana La Nina diperkirakan masih akan terjadi, hanya wilayah timur yang diprakirakan akan lebih basah. Dan wilayah barat, tidak mengalami dampak yang signifikan,” ucapnya.

Supari menjelaskan La Nina pada umumnya akan meningkatkan curah hujan di Indonesia dengan dipengaruhi oleh beberapa faktor.

“Yaitu, pada musim apa berlangsungnya dimana yang umum terjadi adalah saat bulan Juni hingga November, intensitas La Nina itu sendiri dimana semakin kuat intensitasnya maka akan semakin nyata dampaknya, dan juga kondisi topografi wilayah terdampak. Inilah yang menyebabkan dampak La Nina di Indonesia berbeda-beda,” pungkasnya.

Lihat juga...