Budi Daya Nanas untuk Mencegah Kebakaran Lahan Gambut di Dumai

Petani siap memanen nanas hasil budidaya di lahan gambut di Kota Dumai, Riau – Foto Ant

JAKARTA – Badan Restorasi Gambut (BRG) melakukan pemberdayaan petani lahan gambut di Kota Dumai Provinsi Riau, dengan pengembangan budi daya nanas. Hal itu sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut.

Sejak 2017, tepatnya saat program Badan Restorasi Gambut (BRG) masuk ke daerah tersebut, kebiasaan masyarakat dalam menanam nanas diubah. Waktu itu, BRG membuat sekat kanal dan melanjutkan program revitalisasi ekonomi dengan memberikan bantuan budi daya nanas, kepada petani di bekas lahan gambut yang terbakar. Waktu itu luasannya mencapai 15 hektare.

Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Mundam Jaya, Makmur Djarot menyebut, penanaman nanas di lahan gambut tipis sangat cocok. Kesuburannya bagus, daya tahannya baik, dan nanas dapat tumbuh dengan cepat.

Djarot bercerita, nanas ditanam di tengah penanaman pohon jelutung (Dyera spp) dan meranti, yang mana sistem tumpang sari tersebut telah membuahkan hasil. “Nanas bukan untuk dimanfaatkan buahnya saja , tapi juga bisa menahan api,” jelasnya.

Bantuan budi daya nanas dari BRG pada 2017 sudah membuahkan panen di akhir 2019. Dari 10.000 pokok nanas, dihasilkan 6.000 hingga 7.000 pokok nanas baru. Dan dapat ditanam di area seluas satu hektare. “Pertumbuhan nanas nggak sama, ada yang besar, ada yang kecil. Kami mengeluarkan buah nanas yang besar-besar dulu, yang kecil ditunda,” katanya.

Djarot menghitung, dia pernah menjual sekira 3.000 gandeng nanas, yang setiap gandeng terdapat dua buah nanas. Satu gandeng dijual Rp3.000 hingga Rp4.000. Selama proses penanaman, para petani tidak memiliki persoalan. Namun persoalan baru muncul saat proses penjualan dan datangnya musim penghujan. “Kalau musim hujan, ke kebunnya nggak bisa karena banjir. Kami sulit mengakses kebun untuk mengambil buah,” tandasnya.

Djarot berharap, ada bantuan yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan penjualan. Pada tahap tersebutlah pokmas (Kelompol Masyarakat) kerap mengalami kesulitan, tidak hanya pada nanas, namun juga untuk produk turunannya. (Ant)

Lihat juga...