Di Tengah Kekeringan, Petani Rawalo Panen Hingga 8 Ton per Hektare

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANYUMAS — Di tengah ancaman kekeringan, petani di Desa Banjarparakan, Kecamatan Rawalo masih bisa panen padi hingga 8 ton per hektare. Kondisi tersebut terbilang bagus, sebab rata-rata produktifitas di Kabupaten Banyumas saat ini hanya pada kisaran 5,2 ton per hektare.

Wakil Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono mengatakan, hasil panen kali ini sangat bagus dan jauh dari serangan hama. Petani pun lihai dalam mengantisipasi datangnya musim kemarau, yaitu dengan percepatan tanam.

“Hasil panennya bagus, sampai 8 ton per hektare, hanya saja para petani di Rawalo ini cuma bisa tanam padi dua kali dalam satu tahun. Sehingga setelah panen ini, mereka tidak bisa lagi menanam padi,” kata Wabup, Senin (10/8/2020).

Lebih lanjut Sadewo menjelaskan, para petani di Desa Banjarparakan meminta agar saluran irigasi yang ada diperbaiki dan difungsikan kembali, supaya mereka bisa menanam padi tiga kali dalam satu tahun. Mengingat potensi air sungai yang melalui wilayah tersebut masih bagus meski kemarau.

“Desa Banjarparakan, Kecamatan Rawalo ini merupakan salah satu lumbung pertanian di Banyumas, sehingga aspirasi dari para petani akan kita tindaklanjuti secepatnya. Tahun depan, mereka harus bisa menikmati panen tiga kali,” tuturnya.

Dalam kunjungannya ke Desa Banjarparakan, Sadewo menyempatkan diri untuk ikut memanen padi. Menurutnya, buliran padi hasil panen kualitasnya cukup bagus, besar dan padat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas, Widarso mengatakan, sampai saat ini area yang panen di wilayah Kabupaten Banyumas total sudah mencapai 20.000 hektare lebih. Rata-rata hasil panen 5,5 ton per hektare.

“Hasil panen 5,5 ton per hektare ini sudah cukup bagus, karena rata-rata produktivitas saat sudah masuk kemarau ini hanya pada kisaran 5,2 ton per hektare,” terangnya.

Untuk target luasan panen di Kabupaten Banyumas hingga 68.000 hektare. Memasuki minggu kedua bulan Agustus ini baru mencapai 20.000 hektare. Meskipun begitu, Widarso tetap optimis bisa mencapai target. Sebab, untuk area pertanian di lereng Gunung Slamet, dimana air terus tersedia sepanjang musim, petani bisa tanam sampai 3 kali.

“Untuk sawah di daerah irigasi memang panen padi hanya dua kali dan pada musim selanjutnya, para petani menanam palawija. Namun, untuk daerah di lereng Gunung Slamet bisa tanam sampai tiga kali, sehingga kita optimis bisa memenuhi target,” pungkasnya.

Lihat juga...