Direlokasi Pasca-Tsunami, Warga Kembali ke Pulau Babi

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Setelah terjadi gempa dan tsunami Flores yang meluluhlantakan Pulau Babi, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ratusan kepala keluarga yang selamat direlokasi ke Desa Nangahale, Kecamatan Talibura di Pulau Flores.

Warga yang sebagian besar nelayan dan petani musiman ini hanya bangun rumah dengan halaman seadanya sehingga tidak bisa berkebun karena lahan di areal relokasi merupakan tanah Hak Guna Usaha yang dikelola PT. Krisrama.

“Selesai gempa, tahun 1993 kami mulai kembali lagi ke Pulau Babi karena tidak memiliki lahan untuk berkebun,” kata Campau, sesepuh warga Pulau Babi, Sabtu (15/8/2020).

Campau mengatakan, warga Pulau Babi selain sebagai nelayan juga bertani saat musim hujan dan mereka memiliki lahan pertanian di pulau tersebut sehingga terpaksa membangun rumah sederhana.

Sesepuh warga Pulau Babi, Campau saat ditemui di rumahnya, Sabtu (15/8/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Meskipun memiliki rumah di Desa Nangahale, mereka tetap pulang pergi ke Pulau Babi dan menetap saat musim tanam agar bisa menanam jagung, singkong dan lainnya untuk dikonsumsi.

“Pekerjaan kami nelayan tetapi saat musim hujan kami bertani juga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Hasil dari melaut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” terangnya.

Campau menambahkan, saat ini sudah mendekati 36 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di Pulau Babi dengan membangun rumah-rumah panggung sederhana untuk tempat tinggal.

Kebutuhan air bersih sebutnya, diambil dari Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura yang berada di sebelah selatan Pulau Babi yang membutuhkan waktu sekitar setengah jam menyeberangi laut.

“Kami mengambil air di Desa Tanjung Darat menggunakan perahu untuk memancing. Sekali angkut minimal 10 jeriken tergantung banyaknya jeriken yang dimiliki dan besarnya perahu yang dimiliki setiap orang,” ungkapnya.

Akibat kesulitan air bersih, Campau berharap pemerintah Kabupaten Sikka bisa membantu penampung air dari bahan fiber atau membangun bak air penampung air hujan di Pulau Babi.

Warga Pulau Babi lainnya, Nuraini mengaku terpaksa bersama suaminya kembali menetap di pulau tersebut dengan membangun rumah  panggung sederhana dari bambu belah (Halar) dan beratap ilalang.

“Kami terpaksa membangun rumah sederhana di Pulau Besar, sebab saat musim hujan kami harus berkebun menanam padi, jagung, singkong dan lainnya untuk dikonsumsi,” ungkapnya.

Lihat juga...