DPRD Bekasi Soroti Matinya Pohon Penghijauan TPST Bantargebang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Ketua DPRD Kota Bekasi, Chairuman J Putro, meminta instansi terkait memberi kejelasan secara gamblang terkait matinya pohon penghijauan yang ditanam di areal Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

“Tujuan penanaman pohon itu outcome atau manfaatnya memberi penghijauan di lokasi TPST Bantargebang. Sekarang pohon yang ditanam dikatakan semuanya mati atau mengering, artinya outcome-nya nol. Harusnya ada kejelasan apa penyebabnya,” ungkap Chairuman kepada Cendana News, Rabu (26/8/2020).

Ketua DPRD Kota Bekasi, Chairuman J Putro, meminta ada evaluasi kinerja instansi terkait dalam pelaksanaan penghijauan di TPST Bantargebang, yang menghabiskan anggaran negara, Rabu (26/8/2020) – Foto: Muhammad Amin

Sehingga lanjutnya, bisa jelas kesalahannya dimana apakah dari perencanaan, atau tanaman pohon tersebut setelah ditanam tidak dilakukan perawatan. Harus ada kejelasan agar informasi tidak bias beredar di publik.

Menurut dia, harus dilakukan evaluasi instansi terkait yang terlibat dalam proyek penghijauan tersebut. Karena matinya pohon penghijauan itu sendiri masalah kinerja.

“Jika proyek fiktif jelas, misalkan harus seribu pohon yang ditanam tapi nyatanya tidak ada maka itu fiktif. Tapi ini, soal pohon yang sudah ditanam tapi tidak maksimal, artinya ada persoalan masalah kinerja,” tukasnya.

Apakah persoalan kualitas bibit, perawatan atau tempat harus ada kejelasan kenapa hasilnya buruk. Sehingga bisa dilakukan evaluasi terkait kinerja.

Lebih lanjut dikatakan bahwa proyek tersebut kemungkinan besar adalah berasal dari dana bantuan pemerintah DKI Jakarta yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi.

“Biasa di Bantargebang, tak mungkin anggaran dari APBD Kota Bekasi. Mungkin bantuan DKI, yang dilaksanakan oleh LH Kota Bekasi,” paparnya.

Chairuman juga  mempertanyakan soal penilaian kinerja ke Inspektorat Kota Bekasi. Karena tegasnya transparansi tersebut dituntut dalam semua aspek.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Dinas Lingkungan Hidup, Kota Bekasi terkait matinya ribuan pohon di areal TPST Bantargebang yang ditanam tahun 2019 tersebut. Baik kepala dinas ataupun Sekretaris Dinas LH Kota Bekasi dikonfirmasi melalui WhatsApp dan telepon langsung tidak direspon meskipun tersambung dan terbaca.

Ribuan tanaman penghijauan di areal Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat tidak tumbuh optimal bahkan hampir semua mengering dan mati.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menanggapi terkait matinya ribuan pohon penghijauan di TPST Bantargebang. Dia mengakui tentunya proyek penghijauan tersebut sudah melalui perencanaan dan pelaksanaan.

“Proyek itu dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan proses evaluasi. Lalu balik lagi lihat kontrak perjanjiannya. Seperti apa kontraknya apakah memang dia harus hidup atau memang tertanam,” tegasnya normatif.

Dia juga menyampaikan bahwa harus dilihat lagi kesepakatan pihak kontraktor dan pihak dinas terkait dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup.

Diketahui saat ini kondisi pohon di lokasi TPST Bantargebang mengering dan mati. Jenis tanaman penghijauan didominasi berbagai jenis bahkan didominasi pohon bambu dan saat ini kondisinya mengering.

Proyek tersebut melalui alokasi dana APBD Kota Bekasi senilai Rp 2. 209.493.275, diketahui dianggarkan tahun 2018 dan dilaksanakan pada tahun 2019.

Lihat juga...