Ekonomi Indonesia Lebih Baik Dibanding Negara Lain

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan,  Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, mengklaim, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara lainnya yang mengalami kontraksi ekonomi cukup tajam.

Menurutnya, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak negatif terhadap kesehatan. Sebanyak 213 negara terdampak wabah ini yang telah meluas ke aspek sosial terlebih ekonomi.

Bahkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 minus 5,32 persen. “Itu mengalami kontraksi minus 5,32 persen. Ini berarti mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2020 sebesar 2,97 persen,” ujar Iskandar saat dihubungi, Selasa (11/8/2020).

Tetapi memang menurutnya, Indonesia tidak sendiri mengalami kontraksi, karena di seluruh negara lain terdampak ekonominya.

“Jadi meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II 2020 ini minus 5,32 persen, kondisi ini juga dialami negara yang sangat dalam kontraksinya,” imbuhnya.

Dia mencontohkan, di Amerika Serikat pada triwulan II 2020 mengalami kontraksi minus 9,5 persen. Bahkan kalau dibandingkan dari triwulan ke triwulan sangat dahsyat kontraksi ekonominya, yaitu minus 32,9 persen.

Begitu juga Uni Eropa yang mengalami kontraksi ekonomi lebih tajam hingga minus 15 persen. Negara Singapura minus 12,6 persen, dan Malaysia mengalami minus 8,4 persen.

“Ini artinya kondisi ekonomi kita relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara tersebut,” tukasnya.

Namun kata Iskandar, mengingat begitu luasnya dampak  Covid-19 ini, maka pemerintah harus bekerja keras untuk memulihkan perekonomian nasional Indonesia agar kembali ke pola normal.

Oleh karena itu menurutnya, pemerintah telah meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dan pada saat yang sama juga membuka dengan tatanan hidup baru atau new normal.

Realisasi anggaran untuk penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) baru mencapai 19 persen atau Rp 136 triliun dari total yang sudah dianggarkan di Rancangan APBN-P 2020 sebesar Rp 695,2 triliun.

“Total realisasi hingga awal Agustus 2020 tercatat sebesar Rp 151,25 triliun atau 21,8 persen dari pagu PEN,” pungkasnya.

Lihat juga...