Enam dari Tujuh Spesies Penyu di Dunia Ada di Indonesia

Editor: Makmun Hidayat

DENPASAR — Kepala BKSDA Bali, Agus Budi Santosa menegaskan, Indonesia memiliki potensi satwa liar khususnya penyu yang paling bagus di dunia. Dia mengatakan, dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia enam di antaranya ada di Indonesia. 

“Jenis penyu yang ada di Indonesia ini seperti penyu sisik, penyu lekang, penyu pipih, penyu tempayan serta hijau. Selain itu jenis penyu yang memiliki ukuran paling besar yaitu penyu belimbing dengan berat mencapai 500 kilogram dengan diameter 150 cm, bahkan jenis penyu ini pernah ditemukan paling besar dengan ukuran mencapai 275 cm hampir tiga meter. Sementara jenis penyu yang tidak ada di negara ini hanya jenis penyu camridel,” ujarnya Rabu, (12/8/2020).

Agus menambahkan, proses pengembangbiakan penyu mulai dari telur hingga menetas dibutuhkan waktu sekitar 45 hingga enam puluh hari. Sekali bertelur indukan betina penyu bisa mencapai 50 hingga 120 butir telur. Sementara periode bertelurnya penyu-penyu tersebut berdasarkan teori dua hingga delapan tahun sekali. Dan dalam setahun bisa tiga hingga empat kali dalam setahun penyu tersebut datang ke bibir pantai untuk bertelur.

Kepala BKSDA Bali, Agus Budi Santosa saat ditemui, Rabu, (12/8/2020). -Foto: Sultan Anshori

Meskipun proses keberhasilan penetasan telur bisa sampai 90 persen, namun seksing telur tergantung dari jenis kedalaman lubang penetasan telur penyu. Semakin lubang telur yang digali oleh indukan penyu betina, maka kecenderungan telur yang ditetaskan berjenis kelamin perempuan. Dan sebaliknya, jika semakin dangkal lubang telur, maka akan didominasi telur jantan.

“Yang paling penting saat berbicara perilaku penyu yang dalam proses bertelur, berdasarkan penelitian penyu identik dengan tidak setiap dalam tempat bertelur. Artinya bisa berpindah-pindah. Biasanya, kecenderungan penyu akan bertelur akan mencari pantai yang memiliki kontur tanah yang landai, berpasir serta sepi dari aktivitas manusia. Misalnya sinar lampu dan aktivitas manusia lainnya,” imbuhnya.

Dalam catatan BKSDA Bali, semua pantai di Bali ini esensinya merupakan tempat paling ideal untuk dijadikan tempat bertelur oleh semua jenis penyu.

Namun dari fakta di lapangan, hanya jenis penyu Lekang yang datang ke pantai Bali. Bahkan dari penelitian yang dilakukan selama kurun waktu 20 tahun ini, jenis penyu Belimbing yang memiliki ukuran yang paling besar diantara jenis penyu lainnya angka bertelur di Bali turun drastis mencapai angka 97 persen. Bahkan, di dunia, jenis penyu ini merupakan spesies yang memiliki pengusutan paling tinggi di dunia.

Menurutnya, ada beberapa pantai yang dipasangi beton pemecah ombak cenderung tidak akan pernah didatangi oleh penyu untuk bertelur. Kebanyakan penyu yang datang ke pantai Bali untuk bertelur adalah jenis penyu Lekang.

Dikatakan, BKSDA Bali sendiri sudah memiliki beberapa tempat konservasi penetasan telur untuk penyu. Dua diantaranya terbesar dan terbaik di nasional yaitu di Jembrana serta di Pantai Saba, Kabupaten Gianyar. Di tempat konservasi telur penyu Saba Asri ini, bisa membantu penetasan telur yang diambil dari 160 sarang yang dipindahkan ke konservasi Saba Asri yang dibangun oleh BKSDA selama kurun waktu 10 tahun belakangan.

“Jadi ini telur penyu yang di ambil dari pantai sekitar oleh para warga maupun nelayan,” tandasnya.

Oleh sebab itu, pihaknya menyarankan di Bali disediakan pantai-pantai tertentu yang didedikasikan untuk satwa liar khusus untuk penyu. Dengan catatan pantai-pantai tersebut benar-benar tidak boleh dibangun atau dijadikan zona hijau untuk konservasi satwa laut.

Lihat juga...