Evolusi Ruhaniah

OLEH: HASANUDDIN

KETIKA Allah swt telah menciptakan ruh dalam bentuknya yang terbaik, fi ahsani taqwiim (At-Tin ayat 4) di alam Ketuhanan (jabarut)… “Ditempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa” (Al-Qamar (54):55), “Allah memanggilnya dan membekalinya dengan cahaya tauhid (alastu bi Rabbikum, qalu bala syahidna)“–Al ‘Araf (7) ayat 172).

Kemudian dia memakaikannya kiswah (pelindung) kepada ruh tersebut. Lalu diturunkan ruh itu ke alam malakut (alam batiniah), di alam ini kembali ruh di beri pelindung. Kemudian ruh diturunkan ke alam lahiriah atau alam al-mulk, di mana proses penurunan (tanzil) dari ruh inilah yang di maksud tsumma radadnahu asfala safiliin (At-Tin ayat 5). Di alam al-mulk ini Allah swt memakaikan kiswa unshuriyyah (pelindung yang terbuat dari cahaya al-mulk) agar ruh tidak terbakar di alam tersebut.

Pada masa di alam ketuhanan atau alam jabarut ruh dinamai dengan ruh sulthani, di alam batin dinamai ruh rawwani, di alam kerajaan lahiriah dinamai ruh jasmani.

Ruh jasmani meliputi seluruh tubuh dan ia berada di antara darah dan daging. Ruh rawwani ditempatkan di dalam hati, ruh sulthani ditempatkan di dalam lubuk hati, sedangkan ruh qudsiy ditempatkan di bagian hati yang paling dalam yang teramat bersifat rahasia, sehingga dinamai dengan sirr (rahasia).

Kepada masing-masing ruh ini dilengkapi dengan potensi, sehingga manusia mesti benar-benar memerhatikan tindakannya agar tidak menimbulkan bekasan (yang tidak dikehendaki) pada ruh. Allah swt berfirman: “Maka, apakah ia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang di dalam dada”. (QS. Al-Adiyat  (100): 9-10). Demikian pula dalam firmannya: “Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya” (QS. Al-Isra (17): 13).

Kedua ayat ini menjelaskan bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh apa yang ditangkap oleh ruh mereka, yang melahirkan kesadaran dan membentuk atau memengaruhi tindakan.

Ruh jasmani yang meliputi seluruh tubuh yang nampak, berkuasa atas pelaksanaan syariat dan muamalah yang berbentuk amalan wajib yang diperintahkan Allah swt melalui hukum-hukum zhahir yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan. Sebagaimana firmannya: “Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi (18): 110).

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah itu baik, dan Dia tidak menerima melainkan yang baik”.

Rasulullah juga bersabda: “Dan sesuatu yang diperintahkan Allah swt kepada orang mukmin sama seperti yang diperintahkan-Nya kepada para rasul”. Sebab itulah, terkadang ada yang berpandangan bahwa ruh suci (orang mukmin) yang ada dalam jasmani itu adalah rasul-Nya.

Allah swt berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mu’minun (23): 51).

Yang diperintah makan dalam ayat ini adalah ruh (mukmin) sebab itu tentu makanan yang dimaksud bukanlah benda-benda seperti yang dikonsumsi oleh fisik/tubuh. Makanan yang dimaksud adalah dzikir. Sebab itu sambungan ayat mengatakan “kerjakanlah amal saleh”. Amal saleh yang dimaksud seperti yang dikemukakan pada surah Al-Kahfi di atas yakni “tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun”.  Sebab itulah disimpulkan bahwa kalimat dzikir yang dimaksud adalah la ilaha illah Allah. Itulah makanannya ruh.

Sedangkan ruh rawwani yang ada di dalam hati. Isinya ilmu tarekat dan muamalat yang senantiasa sibuk dengan 4 nama pertama dari 12 nama Allah yang utama, dari 99 nama Allah.

Allah swt berfirman: “Allah mempunyai nama-nama yang paling baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu” (QS. Al-Araf (17): 180). Rasulullah SAW bersabda: “Allah swt memiliki 99 nama. Barangsiapa yang menghafal (nama-nama)-Nya, pasti akan masuk surga”.

Yang dimaksud “menghafalnya” adalah berakhlak dengan nama-nama tersebut. Sedangkan 12 nama-nama yang utama tadi itu merupakan manifestasi dari 12 huruf yang terdapat dalam kalimat لا اله الل الله   yang berjumlah 12 huruf. Dengan senantiasa melafalkan dzikir (ucapan yang teguh) ini Allah meneguhkan keimanan. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu. Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh, tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing” (QS. Al-Baqarah (2) ayat 60.

Allah swt juga berfirman: “Allah meneguhkan iman kaum mukmin dengan ucapan yang teguh itu di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim (14): 27). Allah juga akan memberikan ketenteraman batin bagi mereka yang senantiasa melantunkan dzikir ini. Semakin kuat semakin teguh berpegang kepada kalimat ini semakin dalam dan tinggilah ketauhidan seorang mukmin yang diumpamakan seperti pohon yang kuat dengan akar yang masuk ke dalam bumi dan menjulang ke atas langit. Allah swt berfirman: “Seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit” (QS. Ibrahim (14): 24).

Melalui dzikir yang mengukuhkan kesadaran tauhid inilah ruh rawwani menempati kerajaan batiniah bersama para malaikat sehingga disebut pula alam batiniah itu dengan alam malakut.

Adapun ruh yang telah tersucikan di alam batin akan melanjutkan perjalanannya naik ke alam sulthan atau masuk ke dalam fuad (lubuk hati), yang malaikat maupun iblis tidak dapat memasuki alam ini.

Muamalahnya adalah ma’rifat dengan empat nama pertengahan lisan hati, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Ilmu ada dua macam: pertama, ilmu yang ada pada lisan; ilmu ini akan dijadikan hujjaah oleh Allah swt di hadapan manusia. Kedua, ilmu dengan hati; ilmu inilah yang berguna”. Maksudnya yang berguna untuk ruh di alam fuad. Sebab beliau juga bersabda: “Al-Quran memiliki makna zahir dan batin, di mana makna batinnya bercabang hingga sebanyak 70 buah”.

Allah swt berfirman, “Suatu tanda kekuasaan Allah yang besar bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan biji-bijian, maka darinya mereka makan” (QS. Yasin (36): 33).

Tentu saja semua amalan ruh itu mesti dilakukan dengan ikhlas. Dan jika dalam 40 hari seseorang dapat menjalankan ibadah ruhiyah ini dengan ikhlas, insyaallah akan berikan ilmu hikmah.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang berbuat ikhlas karena Allah selama empat puluh hari, niscaya mata air hikmah akan bermunculan dari hatinya melalui lisannya”.

Dan sejak itu hatinya akan benar-benar menjadi pembimbing baginya. Allah swt berfirman: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (QS. An-Najm (53): 11).

Mahasuci Allah dengan segala Kemahakuasaan-Nya yang tidak terhingga. Kepada-Nya semua makhluk akan kembali, baik secara sukarela maupun dengan terpaksa.

Salam sejahtera kepada junjungan kita Nabiullah Muhammad saw, semoga Allah swt senantiasa melipatgandakan kemuliaan dan keagungan kepada beliau, keluarga beliau, para sabahat, para tabiin, para tabiit-tabiin, para waliullah, khususan kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang kami tuliskan hal di atas berdasarkan penjelasan beliau dalam kitabnya, Sirr al-Asrar wa muzhir al-anwar fi ma yathaju ilahi albrar.

Semoga Allah swt, senantiasa menambah ilmu-Nya bagi kita semua, meridhai dan memberkahi kita semua. Kepada-Nya lah kita akan kembali. ***

Depok, 14 Agustus 2020

Lihat juga...