Festival Lima Gunung Tahun ini Terganjal Corona

MAGELANG – Bukan persoalan tak ada dana penyokong andaikan seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memutuskan tidak menggelar agenda kebudayaan tahunan mereka kali ini, yakni Festival Lima Gunung, melainkan karena alasan pandemi COVID-19.

Sesungguhnya, ihwal lebih mendasar, karena kesadaran pegiat dan para tokoh Komunitas Lima Gunung berhitung dan menimbang-nimbang secara jelimet tentang sedemikian rumit membikin acara seni, budaya, dan tradisi beriringan dengan risiko genting penularan virus corona jenis baru itu.

Berbagai kalangan, paguyuban, organisasi, pemerintah, atau pihak swasta, mungkin dengan relatif mudah membatalkan agenda besar tahunan dari Komunitas Lima Gunung berupa suatu festival karena faktor anggaran yang harus direalokasi untuk fokus pada penanganan dampak pandemi.

Tidak demikian halnya Komunitas Lima Gunung, karena para tokohnya sudah menaruh tanda tangan di atas tanah, di pusat aktivitas berkesenian dan kebudayaan di panggung terbuka Studio Mendut, sekitar 100 meter timur Candi Mendut, Kabupaten Magelang, terkait dengan festival tahunan mereka.

Tanda tangan mereka, beberapa tahun silam itu, dikenal dengan “Sumpah Tanah”, dengan keutamaan menyangkut penyelenggaraan Festival Lima Gunung tanpa sponsor dan donasi pihak manapun, namun mengandalkan kekuatan sosial desa dan gunung yang menjadi basis komunitas.

Bumi global kini disapu gelombang pandemi virus selama bulan-bulan terakhir, Festival Lima Gunung yang tahun ini sebagai ke-19 diselenggarakan komunitas berbasis seniman petani dirintis sekitar 20 tahun lalu oleh budayawan Magelang, Sutanto Mendut (66).

Festival desa yang mandiri tersebut kini telah mendunia, sedangkan Tanto Mendut masih segar bugar, sesekali berkeliling menjumpai warga desa di kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh yang menjadi basis-basis komunitasnya, meski di tengah pandemi.

Dalam lawatan ke basis-basis komunitas itu di kawasan gunung-gunung setempat, dari tempat tinggalnya di Studio Mendut, ia taat protokol kesehatan dan menghitung dengan cermat tren data penyebaran virus melalui berbagai media.

Aktivitas seni budaya di Studio Mendut yang dikelolanya juga seakan tak surut di tengah pandemi, dengan komitmen disiplin terhadap protokol itu. Begitu juga komunikasinya yang nyaris tak putus dengan komunitasnya di tengah pandemi, ia juga mengandalkan media sosial dan grup-grup percakapan.

Persoalan tuan rumah FLG XIX/2020 telah diputuskan para pemuka komunitas setelah festival tahun lalu di kawasan Gunung Merapi di Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, yakni di Sanggar Wargo Budoyo Sumbing, Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, di kawasan Gunung Sumbing.

Rencana waktu penyelenggaraan festival telah diputuskan juga awal tahun ini, yakni 7-9 Agustus. Berbagai daerah di Indonesia yang tentunya juga Magelang, ketika keputusan itu diambil, belum diterjang pandemi virus.

Bahkan, sekelompok mahasiswa Universitas Melbourne, Australia, telah menciptakan tarian “Soreng Melbourne” (Soreng, tarian rakyat kawasan Gunung Merbabu) untuk diusung ke FLG XIX. Karya mereka itu berkaitan dengan kehadiran Tanto Mendut menjadi pengajar tamu perguruan tersebut, awal Maret lalu. Namun, pandemi membuat mereka sejak dini membatalkan hadir di festival.

Penyelenggaraan festival-festival hingga tahun ke-18 komunitas itu selalu menghadirkan ketulusan penonton dari berbagai tempat, bahkan hingga puluhan ribu orang. Berkerumun dan berdesakan mengelilingi panggung festival yang selalu berinstalasi ragam bahan alam desa-gunung menjadi jejak ingatan dan dokumentasi atas kemegahan FLG.

Begitu juga berbagai kelompok seniman maupun pegiat seni secara perorangan yang berjejaring dengan Komunitas Lima Gunung, mengantre untuk mendapatkan slot pementasan.

Para fotografer dan pekerja media dari berbagai kota, seakan juga menunggu festival tahunan itu hadir lagi untuk mereka meraih kekayaan dokumentasi atas nilai-nilai luhur dan peristiwa kemanusiaan, lingkungan alam desa-gunung, serta kekuatan kodrati-adikodarti atas saling keterhubungan antarsesama dan dengan karya ciptaan Ilahi yang lainnya.

Peneliti Citra Research Center Yogyakarta yang fokus pada kajian kebudayaan dan pergelaran, Brian Trinanda Kusuma Adi, mengemukakan tentang proses liminalitas (persimpangan antara struktur-antistruktur) dikerjakan komunitas itu terhadap banyak momentum performa ritual dengan memproduksi tatanan sosial mereka secara bersama-sama.

Sumber kehidupan sosial dan budaya untuk dia menyebut periode liminal dalam komunitas itu, tidak lepas dari tradisi warga –berdasarkan kalender tahunan desa– antara lain merti dusun, saparan, dan rejeban yang hingga saat ini dilakoni anggota mereka di desa masing-masing, di kawasan lima gunung yang mengelilingi lanskap Magelang.

“Penyelenggaraan merti dusun (dan tradisi desa lainnya itu, red.) memungkinkan mereka untuk memainkan fungsi utama ritual, yaitu untuk ‘menumbuhkan’ masyarakat dengan mempertahankan solidaritas komunal mereka,” katanya dalam resume tesis “Komunitas Lima Gunung: The Performances of Communitas” di Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Belum lama ini, Brian melalui ujian tesisnya secara daring”, meraih gelar Master of Art dari UGM setelah risetnya selama setahun terakhir di Komunitas Lima Gunung, sedangkan para tokoh utama komunitas kemudian merayakan dengan siaran langsung perbicangan melalui sejumlah platform medsos bertajuk “Di Balik Komunitas”.

Pada akhir acara di panggung beralas tanah Studio Mendut itu, satu per satu para tokoh memberi aneka sebutan gelar master versi gunung kepada putra kelahiran Pati, 29 tahun silam itu, antara lain Master of Rayap Gunung, Master of Romantika Empiris, Master of Gohmuko, Master of Sedulur Gunung, Master of Jowongso, Master of Iiihhh, Master of Bumi, Master of Limagununglogi, Master of Laku, Master of Kelono, dan Master of Kota-Desa.

Ritual

Festival Lima Gunung telah menjadi prosesi ritual tahunan yang dijalani komunitasnya tanpa sponsor pemerintah maupun pengusaha, merujuk kepada sumber asli, yakni tradisi budaya warga tentang cara melihat dunia yang mengakar, berdasarkan kalender desa.

Sementara catatan salah satu puncak perjalanan kebudayaan komunitas itu dalam wujud performa Sumpah Tanah bertepatan dengan FLG IX/2010 dipandang Brian sebagai mengubah festival mereka menjadi identik dengan tradisi budaya, sebagaimana dijalani warga desa secara turun temurun.

Sumpah Tanah menjadi judul buku tentang Komunitas Lima Gunung, yang bersumber dari disertasi pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Joko Aswoyo, diluncurkan bertepatan dengan puncak festival tahun lalu.

“Sumpah Tanah, singkat kata, telah menjadi ritus sosial ‘communitas’ KLG,” ucap Brian yang gelar Sarjana Strata 1 diperoleh melalui Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Festival Lima Gunung telah menjadi pengikat keterhubungan batiniah komunitas yang dalam perkembangannya juga merambah jejaringnya di berbagai kota dan luar negeri. Oleh karenanya, setiap tahun upaya menyelenggarakan ritual festival itu pun selalu menjadi kehendak bersama.

Oleh karena pandemi itu juga, persiapan festival menjadi perbincangan para petinggi komunitas selama bulan-bulan terakhir. Mereka juga menyerap pertanyaan yang datang dari berbagai simpul jejaring dan komunitas seniman luar daerah itu terkait dengan festival di tengah pandemi.

Pemimpin utama Sanggar Wargo Budoyo Sumbing Krandegan, Sarwo Edi Wibowo, menyampaikan kehendak kuat warga dusunnya sebagai tuan rumah festival tahun ini sebagaimana kesepakatan tahun lalu. Akan tetapi, penyelenggaraan festival tetap menyesuaikan dengan perkembangan kondisi pandemi global virus itu.

“Karena COVID-19, tahun ini pembukaan dibuat dalam bentuk doa dan ritual para tokoh, tanpa massa. Tetapi tahun depan festival tetap di desa kami. Itu permintaan warga,” katanya dalam suatu rapat Komunitas Lima Gunung di salah satu homestay di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu.

Berbagai keputusan lain yang dianggap detail, terutama terkait dengan FLG XIX/2020 di tengah pandemi, disampaikan Ketua KLG Supadi Haryanto, seperti tentang penggunaan sarana teknologi informasi untuk penyampaian secara virtual kepada publik luas atas festival guna menghindari kerumunan massa, tidak menerima kehadiran kelompok seniman dari luar komunitas untuk mengikuti pementasan, dan larangan kelompok seniman di luar komunitas itu menggelar pementasan di basis masing-masing dengan menempelkan label FLG.

Bagi kelompok-kelompok seniman di internal KLG, diminta menggelar pementasan tanpa penonton di basis desa masing-masing, mengatur waktu pergelaran virtual secara luwes, dan berkoordinasi dengan para tokoh utama komunitas.

“Tahun ini kami tetap mengadakan festival dengan jaga jarak, menggunakan masker, dan secara virtual, menyesuaikan kekuatan masing-masing,” ucap Supadi yang juga pimpinan Padepokan Andong Jinawi, Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, di kawasan Gunung Andong itu.

Siasat mereka berfestival di tengah pandemi seperti itu, bagi budayawan Sutanto Mendut justru membebaskan diri dari ikatan rencana awal mereka menyelenggarakan FLG XIX selama 7-9 Agustus 2020.

Pembukaan festival dalam wujud prosesi ritual doa di makam cikal bakal Dusun Krandegan di kawasan Gunung Sumbing diselenggarakan para tokoh utama komunitas pada Minggu (9/8), sebagaimana tradisi festival selama ini, di mana pembukaannya saat hari terakhir atau puncak dari rentetan agenda pementasan FLG.

Disebut oleh Tanto bahwa festival tahun ini membebaskan diri dari jadwal pementasan yang padat dan bahkan rumit pengaturannya, sebagaimana penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi, bahkan membuka berbagai inspirasi dan ruang ide yang luas bagi komunitas untuk menggelar agenda festivalnya hingga akhir tahun.

Festival tahun-tahun sebelumnya yang umumnya berlangsung tiga hari bisa mencatatkan 80-an pementasan, antara lain tari, musik, kolaborasi seni, pidato kebudayaan, pembacaan puisi, teater, pameran seni rupa, kirab budaya, dan performa seni, dari berbagai kelompok kesenian di KLG maupun jejaringnya di luar daerah dan luar negeri.

“Tahun ini, tidak ada jadwal dan tidak menerima tamu festival,” kata dia.

Sejumlah karya kreatif berupa poster pembukaan festival tahun ini sudah disiapkan sejumlah pegiat komunitas untuk diunggah ke berbagai platform medsos. Namun, telah disepakati bahwa pengunggahan poster paling cepat dua-tiga jam sebelum acara berlangsung.

Dengan mengusung tema “Donga Slamet, Waspada Virus Dunia”, Festival Lima Gunung tahun ini terasa mengena bagi komunitas karena menjadi jalan mereka agar tetap melakoni tradisi tahunan yang liminal itu.

Festival tahun ini, nampaknya juga sekaligus hendak menggiring setiap orang memperkuat kesadaran atas keberadaannya detik demi detik di tengah pandemi global.

Setiap orang mesti hati-hati dan betul-betul tahu diri agar tidak menjadi penular maupun tertular virus dengan segala macam dampaknya yang secepat kilat gampang viral.

Kalau keadaan sebegitu sulitnya karena pandemi, bukan berarti manusia menyerah begitu saja. Begitulah, kiranya capaian akal budi mereka bersiasat untuk tradisi festival tahunannya. (Ant)

Lihat juga...