Ganja Memiliki Lebih Banyak Dampak Negatif

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Ditariknya kembali keputusan menjadikan tanaman ganja sebagai tanaman obat, dinyatakan sebagai langkah yang tepat. Karena dampak negatif dari tanaman ganja dinyatakan lebih banyak dibandingkan dampak positifnya dalam suatu proses perawatan pada suatu penyakit.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dra. Apt. Zullies Ikawati, PhD, menjelaskan, bahwa ganja mengandung tetrahidrocannabinol yang memiliki berbagai macam efek.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dra. Apt. Zullies Ikawati, PhD saat dihubungi, Senin (31/8/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Ganja atau Cannabis sativa itu dibagi dua yaitu Marijuana yang berasal dari daun yang dikeringkan dan pucuk bunga serta Hashish yang merupakan resin dari daun ganja bagian atas,” kata Zullies saat dihubungi, Senin (31/8/2020).

Dalam pengobatan, ada beberapa obat yang berasal dari ganja sintetik untuk digunakan dalam terapi berbagai penyakit. Seperti anoreksia dan kejang.

“Efektivitasnya mungkin baik. Tapi risiko ke arah ketergantungan mungkin ada. Dan ada beberapa potensi efek lain yang tidak diinginkan,” katanya lebih lanjut.

Ia menyatakan ganja dalam fungsinya sebagai senyawa rekreasional memiliki dampak pada psikososial sehingga akan membuka peluang menuju penggunaan zat lainnya, terutama bagi mereka yang berkarakter lemah.

“Sudah tepat ganja dimasukkan ke dalam golongan 1 narkotika. Untuk senyawa cannabinoid yang sudah melalui uji klinik dan diapproved untuk terapi dapat dimasukkan dalam golongan 2, dengan catatan perlu pengawasan penggunaan yang tepat,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pengamat Kesehatan, Dr. Maya Trisiswati, MKM, yang menyatakan setuju dengan keputusan penarikan kembali Kepmen Pertanian yang menerapkan ganja sebagai tanaman obat.

Pengamat Kesehatan Dr. Maya Trisiswati, MKM saat dihubungi, Senin (31/8/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Saya setuju ditarik kembali, karena diperlukan uji klinik yang sesuai dengan ketentuan ilmiah ynag harus dibuktikan dulu untuk mendukung keputusan Mentan tersebut. Tapi tampaknya ini belum dilakukan sebagaimana mestinya,” katanya saat dihubungi terpisah.

Ganja, lanjutnya, termasuk golongan Napza (narkotika psikotrophika dan zat adiktif lainnya) yang dilarang peredarannya di Indoesia, meskipun ada kecenderungan di negara lain sudah dilegalkan.

“Beberapa literatur mengatakan dampak ganja lebih banyak yang buruk dibanding baiknya. Sebut saja efek halusinasi yaitu melihat yang benar-benar tidak ada, delusi yaitu percaya dan meyakini hal-hal yang tidak benar ada dan gangguan mental lainnya,” ucapnya.

Ganja juga memiliki kandungan tar lebih banyak daripada tembakau, yang berdampak pada peningkatan risiko kanker paru atau gangguan paru lainnya.

“Prinsipnya, hasil penelitian itu harus sesuai dengan kaidah ilmiahnya. Mulai dari metode, jumlah orang yang diteliti sampai kajian etiknya. Jika penelitian terkait beberapa pernyataan bahwa ganja mampu mengobati beberapa penyakit benar, pasti sudah ada di jurnal-jurnal ilmiah. Tentunya publikasi bisa dilakukan jika penelitian tersebut sudah diakui oleh lembaga yang memiliki otoritas, seperti WHO atau UNODC,” pungkasnya.

Lihat juga...