Gedung Kejagung yang Terbakar Belum Diasuransikan

Editor: Koko Triarko

Dirjen Kekayaan Negara, Isa Rachmatarwata, menjadi narsum dalam kegiatan diskusi di gedung Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) di Jakarta, beberapa waktu lalu. –Dok: CDN

JAKARTA – Dirjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata, mengungkapkan Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) yang terbakar beberapa waktu lalu belum diasuransikan. Karena itu, sebagai bagian dari Barang Milik Negara (BMN), biaya perbaikan gedung tersebut sepenuhnya akan ditanggung oleh APBN.

“Berdasarkan catatan kami, gedung itu memang belum diasuransikan. Jadi, nanti bila direnovasi atau dibangun kembali, tentunya membutuhkan penganggaran baru dari APBN,” ujar Isa dalam jumpa pers terkait APBN KiTa secara virtual, Selasa (25/8/2020).

Meski demikian, Isa menyatakan penganggaran tersebut tidak mungkin dilakukan pada 2020. Kemungkinan baru bisa dilakukan pada tahun anggaran 2021, saat penyusunan rancangan APBN.

“Saat ini Kementerian PUPR dan Universitas Indonesia tengah melakukan penelitian terkait ketahanan bangunan, apakah masih cukup dengan renovasi bangunan, atau harus dibangun kembali. Sebab gedung itu sudah cukup lama, di bangun 1970 an,” terang Isa.

Isa mengungkapkan, berdasarkan hasil revaluasi terakhir yang telah tercatat dalam buku BMN, nilai gedung Kejagung yang terbakar tersebut berkisar Rp161 miliar, jauh lebih tingga dari saat pertama kali dibeli, yakni Rp7 juta.

“Ini sebagai gambaran saja, sehingga kita bisa menaksir kira-kira berapa anggaran yang nantinya perlu dipersiapkan untuk merenovasi atau membangun kembali gedung itu,” tukas Isa.

Sampai saat ini, hanya Kemenkeu yang seluruh gedungnya telah diasuransikan. Rencananya, tahun ini Ditjen Kekayaan Negara akan mengasuransikan paling sedikit 10 gedung Kementerian/Lembaga.

“Program ini memang sudah ada dalam rencana kerja Kemenkeu, kita masih terus memprosesnya. Kita tahu, mengasuransikan gedung perkantoran ini memang merupakan budaya baru dalam rangka menjaga ketertiban dan pemeliharaan bangunan, bukan semata-mata mengeluarkan anggaran,” papar Isa.

Lihat juga...