Gowes Seru Menyusuri Jejak Pejuang Kemerdekaan di Kota Semarang

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Prasetyo, hanya bisa mengangguk-angguk, saat mendengar penjelasan tentang sejarah Gedung Papak di kawasan Kota Lama. Puluhan tahun tinggal di Kota Semarang,  dirinya sama sekali tidak mengetahui jika gedung tersebut, penuh dengan cerita sejarah.

“Saya baru tahu, kalau gedung ini dulunya, menjadi salah satu lokasi pembantaian tentara Jepang,” paparnya, bersunguh-sungguh.

Bagi Prasetyo, dan puluhan peserta kegiatan ‘Nyepeda Telusur Jejak Perjuangan Rakyat Semarang’, yang digelar Komunitas Photocycle Semarang, pada Rabu (12/8/2020), seperti oase di padang pasir, yang memberikan informasi tentang berbagai cerita sejarah yang ada di Semarang.

Cerita mengharukan bahkan dialami Juari, salah satu peserta kegiatan. Hal itu terjadi saat rombongan peserta, berhenti dan berkunjung di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang, yang menjadi salah satu titik kunjungan.

Pria paruh baya tersebut, menghampiri makam sang ayah, Kho Siang Bo, yang dimakamkan di lokasi tersebut. “Hingga usia saya sekarang 75 tahun, saya hanya bisa melihat nisan dan tidak tahu seperti apa wakah asli ayah, karena saat itu saya masih kecil saat beliau meninggal. Foto dokumentasi juga tidak ada,” terangnya.

Diceritakan, dirinya yang kala itu baru berumur satu bulan, saat sang ayah gugur ditembak tentara penjajah Jepang, saat wilayah Lemah Gempal yang menjadi lokasi rumah mereka.

Pewarta senior sekaligus pemerhati sejarah militer di Semarang, Chandra AN, saat memaparkan cerita sejarah dan perjuangan kepada para peserta, Rabu (12/8/2020). -Foto Arixc Ardana

Dengan dipandu pewarta senior sekaligus pemerhati sejarah militer di Semarang, Chandra AN, rombongan yang terdiri sekitar 50 orang mengayuh sepedanya berkeliling ke sejumlah titik lokasi.

Perjalanan dimulai dari kawasan Kota Lama, kemudian menuju Jembatan Mberok, gedung Papak, Sobokarti, Lapas Wanita Kelas IIA Bulu Semarang, hingga TMP Giri Tunggal Semarang.

“Sebenarnya, ada banyak kisah heroik perjuangan rakyat Semarang,dalam melawan penjajah, tetapi hanya sebagian kecil saja yang diceritakan secara berulang. Sehingga, banyak masyarakat, khususnya anak muda generasi milieal lupa akan sejarah bangsa,” terangnya.

Dirinya mencontohkan, di lokasi yang sekarang berdiri Lapas Wanita Kelas IIA Bulu Semarang, dahulunya merupakan lokasi pertempuran sengit melawan penjajah Jepang.

Atau tengok gedung kampus Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang di Jalan Imam Bonjol. Dulu gedung yang bernama asli Java Hokooka tersebut, merupakan tempat pertama kali naskah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh para pemuda di Semarang.

“Untuk itu, saya mengajak masyarakat Semarang untuk kembali menelusuri jejak para pejuang kita. Untuk kita belajar keteladanan mereka, perjuangan mereka, sehingga harapannya, kita sebagai generasi masa kini, harus bisa menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif,” pungkasnya.

Lihat juga...