Gunung Kidul Panen Raya Singkong di Masa Pandemi

GUNUNG KIDUL – Lahan tanaman singkong seluas 45.816 hektare di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memasuki masa panen pada Agustus ini dengan harapan mampu mendukung ketahanan pangan masyarakat dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto, di Gunung Kidul mengatakan, Gunung Kidul merupakan sentra penghasil ubi kayu atau singkong di DIY dengan total luas tanam saat ini mencapai 45.816 hektare.

“Pada akhir Juli lalu, petani sudah memanen singkong seluas 3.427 hektare. Sedangkan sisanya akan dipanen pada Agustus ini sehingga terjadi panen raya singkong di Gunung Kidul,” kata Bambang.

Ia mengatakan panen singkong ini tidak hanya mencukupi kebutuhan lokal, mengingat Singkong Ketan Bima Sena yang petani tanam banyak diminati orang dari luar Gunung Kidul.

“Petani mulai menanam Singkong Ketan Bima Sena yang memiliki nilai jual tinggi,” katanya.

Anggota Kelompok Tani Ngudi Raharjo di Dusun Plosokerep, Bunder Patuk, Tumiran, mengatakan saat ini sedang mengembangkan singkong jenis Ketan Bima Sena.

Ia menjelaskan singkong ini merupakan varietas lokal asli Gunung Kidul. Satu pohon bisa menghasilkan singkong seberat 6-7 kilogram. Adapun harga untuk saat ini dipasarkan Rp4.000-5.000 per kilogram.

“Tapi saya menjualnya dengan sistem tebas. 1.000 batang dibeli seharga Rp6.500.000,” katanya.

Dia pun berharap harga singkong bisa terus stabil sehingga petani dapat memperoleh keuntungan. Untuk saat ini melakukan inovasi dengan cara stek batang singkong dengan cara membuka batang tuna. Diharapkan dengan model ini hasil Singkong Ketan Bima Sena bisa lebih produktif.

“Potensinya bisa mencapai 30-40 kilo per batangnya,” ungkapnya.

Anggota Kelompok Tani Ngudi Raharjo lainnya, Martono mengatakan saat ini sudah mulai panen singkong. “Hasilnya bagus dan singkongnya besar-besar,” katanya.

Dia mengakui belum tahu harga terkini singkong. Meski demikian, ia berharap harganya tetap tinggi sehingga hasil dari berkebun bisa dinikmati.

“Tahun lalu harganya hanya Rp2.000 per kilogram. Mudah-mudahan sekarang harganya bisa lebih baik dan petani dapat memperoleh keuntungan,” katanya. (Ant)

Lihat juga...