Harga Bahan Dapur di Tingkat Petani di Bekasi, Anjlok

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Meski sempat melonjak di awal pandemi covid-19, harga sejumlah komoditi bumbu dapur seperti kunyit dan sereh kini kembali turun. Anjloknya harga tersebut sudah lama terjadi sejak Idul Fitri 1441 lalu.

Petani budidaya bumbu dapur mengakui harga sekarang terbilang jauh dari harga normal. Adapun untuk harga kunyit per kilo di tingkat petani hanya dibeli dengan harga Rp5000. Begitupun untuk serai dengan harga Rp5.000 per kilogram.

Hal tersebut disampaikan Emak Ami, petani bumbu dapur di Kranggan Kulon, Jatiraden, Jatisampurna, Kota Bekasi Jawa Barat. Diakuinya harga komoditi di tingkat petani tergantung musim. Jika sepi maka harga naik, tapi jika melimpah maka harga turun.

“Harga di Petani tetap normal, meskipun di pasar melonjak, begitulah pak. Padahal menunggu panen untuk kunyit dan sereh itu paling sebentar 7 bulanan untuk hasil maksimal,” ucap Emak Ami, petani budidaya bumbu dapur di Kranggan Kulon, Jatiraden, kepada Cendana News, Senin (3/8/2020).

Dikatakan, harga biasanya mencapai Rp7.000 untuk kunyit, tapi beberapa bulan terakhir turun. Dia memperkirakan akibat barang masih banyak seperti ditempat lain ikut panen juga

Warga Kranggan Kulon, masih banyak memenuhi kebutuhannya dengan bercocok tanam rempah dapur memanfaatkan lahan tidur atau tidak terpakai milik perusahaan yang ada di sekitar perkampungan setempat.

Lahan tersebut oleh warga ditanami berbagap tanaman dapur, seperti sereh, onji, kunyit ataupun jenis sayuran dan lainnya, dengan sistem tumpangsari. Banyak pihak seperti Ibu PKK melakukan tinjauan ke lokasi tersebut.

Kurniawan, warga setempat mengatakan untuk harga bahan dapur yang dibudidayakan warga, biasanya akan melonjak jika musim panas. Hal tersebut akibat minimnya tumbuhan tersebut.

“Hukum pasarkan begitu, jika barang langka maka harga naik, sekarang mungkin barang dari tempat lainnya terutama dari wilayah luar Jabodetabek tengah panen raya, maka harga anjlok,” tukasnya.

Kurniawan kerap memborong, hasil panen petani lalu dikerjakan sendiri dalam memanennya. Dia menjual hasil rempah dapur tersebut ke pasar wilayah Pondok Bambu Jakarta.

“Sekarang harga sereh di pasar bisa mencapai Rp8.000 per kilo, begitupun harga kunyit. Tapi nanti setelah musim panas agak lama biasanya harga melonjak,” ujarnya mengakui sekarang meski di Bekasi mulai memasuki musim panas tapi masih belum lama.

Musim panas biasanya budidaya tempat luas, berhenti karena biaya perawatan lebih besar. Maka hanya petani dengan budidaya di lahan kecil tetap berkembang.

Lihat juga...