INDEF: Pertumbuhan Triwulan II 2020 Terendah di Era Reformasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto dalam konfrensi pers INDEF bertajuk 'Hadapi Resesi,Lindungi Rakyat: Respon Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2020', secara virtual di Jakarta, Kamis (6/8/2020). Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto mengatakan, perekonomian Indonesia pada triwulan II 2020 mengalami kontraksi dengan laju pertumbuhan sebesar -5,32 persen yoy (year on year).

Kontraksi ini menurut Eko, lebih dalam dari perkiraan banyak pihak, dan menjadi angka pertumbuhan terendah sejak era feformasi, tepatnya sejak triwulan I 1999 yang tumbuh -6,13 persen yoy.

Padahal tambah dia, dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejatinya sudah mengalami tren perlambatan sejak capaian tertingginya di triwulan II 2018 yang tumbuh 5,27 persen yoy.

Namun sejak triwulan III-2019, terjadi perlambatan (seasonally adjusted) terjadi di setiap kuartalnya, dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun sebelumnya (yoy).

“Pertumbuhan negatif yang kita alami di triwulan II 2020 ini menjadi pertumbuhan paling rendah di masa era reformasi. Padahal sejauh ini data menunjukkan bahwa triwulan II umumnya merupakan puncak dari pertumbuhan ekonomi secara kuartalan. Kali ini ceritanya berbeda, justru triwulan II 2020 menjadi triwulan tanpa pertumbuhan ekonomi,” ungkap Eko dalam konfrensi pers INDEF bertajuk ‘Hadapi Resesi, Lindungi Rakyat: Respon Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2020’, secara virtual di Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Menurutnya, ada tiga sektor yang mengalami pertumbuhan positif, yaitu sektor pertanian; sektor informasi dan telekomunikasi; serta sektor pengadaan air listrik dan gas.

Di luar itu semua hampir seluruh sektor mengalami pertumbuhan negatif selama triwulan II 2020 dengan sektor transportasi dan pergudangan sebagai yang terendah.

“Menariknya, sungguh pun sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif di triwulan II tetapi sektor akomodasi dan makan minum tetap mengalami perlambatan extra dalam, yaitu sekitar 22 persen sebagai imbas turun drastisnya perjalanan selama pandemi,” tukasnya.

Lebih lanjut disampaikan, berdasarkan lapangan usahanya secara year on year terlihat bahwa pertumbuhan sektor-sektor yang memiliki kontribusi besar bagi Produk Domestik Bruto (DBP), yaitu sektor industri dan sektor perdagangan juga mengalami perlambatan yang cukup dalam.

Sektor industri dari pertumbuhan 3,54 persen yoy pada triwulan II tahun lalu menjadi -6,19 persen yoy pada triwulan II 2020.

Hal yang sama juga terjadi pada sektor perdagangan dari tumbuh 4,63 persen yoy pada triwulan II 2019 sekarang -7,57 persen yoy di triwulan II 2020.

Selain itu, kata Eko, kontraksi konsumsi rumah tangga, dari sisi pengeluaran terlihat sekali, bahwa di triwulan II 2020 konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi yang sangat besar di mana pertumbuhannya 5,51 persen yoy.

Ini menandakan daya beli masyarakat yang turun drastis. Pertumbuhan minus pada sisi konsumsi ini menurutnya lagi, yang pertama kali selama era reformasi padahal 57,85 persen perekonomian sangat bergantung dari laju konsumsi rumah tangga.

“Ketika posisinya konsumsi rumah tangga minus, maka sangat mengganggu terhadap keseluruhan dari komponen pembentuk PDB,” pungkasnya.

Lihat juga...