Inilah Kesaksian Warga Terdampak Tsunami di Pulau Babi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Gempa dan tsunami yang melanda pesisir utara Pulau Flores 12 Desember 1992 membuat warga yang tinggal di Pulau Babi di kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampak signifikan.

Usai tsunami warga Pulau Babi di wilayah Kecamatan Alok Timur yang selamat direlokasi ke pemukiman yang dibangun pemerintah di Desa Nangahale Kecamatan Talibura.

“Kami dulu tinggal di sini tapi setelah gempa dan tsunami tahun 1992 kami pindah ke Nangahale,” kata Kaharudin, warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu (15/8/2020).

Mantan penduduk Pulau Babi di Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT yang terkena dampak gempa dan tsunami, Kaharudin saat ditemui di Pulau Babi, Sabtu (15/8/2020). Foto: Ebed de Rosary

Kaharudin mengatakan, sebanyak 30 keluarga kembali membuat rumah sederhana di Pulau Babi sebagai tempat berteduh saat musim hujan agar bisa berkebun di tempat ini, sebab di Nangahale tidak memiliki lahan kebun.

Dia mengatakan, waktu gempa dan tsunami dirinya lari menyelamatkan diri ke gunung bersama istri dan 5 anak mereka bersama ratusan warga lainnya.

“Saat kami lari ke gunung anak saya terlepas dari pegangan dan terseret gelombang serta tidak sempat ditarik tangannya. Semua anak saya meninggal dunia,” tuturnya.

Kaharudin mengatakan ada sekitar 300 kepala keluarga yang tinggal di Pulau Babi saat itu dan hampir setengahnya meninggal dunia akibat gempa dan tsunami.

“Saat itu saya sedang tangkap ikan nener. Saat ada gempa saya lari ke rumah dan air naik sehinggga kami lari ke gunung. Yang tidak sempat melarikan diri meninggal dunia terseret tsunami,” ungkapnya.

Setelah tsunami reda, Kaharudin mengaku menggunakan sampan menuju ke Desa Nebe, Kecamatan Talibura sendirian saja guna mencari bantuan.

Setelah dirinya kembali ke Pulau Babi, sudah ada petugas dari Maumere datang memberikan bantuan sehingga ia dan beberapa warga lainnya dievakuasi terakhir.

Sang istri Nurdiati mengaku, saat itu dirinya berlari bersama anaknya dan suami di samping mereka namun anak mereka terlambat berlari sehingga terseret gelombang tsunami.

Dia mengaku sedih setelah anaknya meninggal namun setelah pindah ke Nangahale ia mengaku terobati karena kembali dikarunia 5 anak lagi.

“Kami bersedih karena semua anak meninggal meskipun kami coba menyelamatkan diri dengan berlari bersama ke gunung,” ungkapnya.

Lihat juga...