Investasi Perkebunan Jagung di Sumbar, Potensial

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Gubernur Sumatera Barat menyebutkan bahwa investasi dalam usaha pertanian padi di daerahnya itu tidak akan memberikan keuntungan yang lebih, karena lahan pertanian Sumatera Barat yang berjenjang dan kecil-kecil bisa dikatakan menjadi sebuah kendala.

Hal ini diungkap Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, dalam rapat dengan Kepala Kanwil Kemenhan Sumbar bersama OPD terkait di ruangan kerja gubernur, Jumat (28/8/2020). Sementara investasi usaha Badan Cadangan Logistik Strategis (BCLS) yang dikelola Kementerian Pertahanan (Kemenhan) di Sumatera Barat hanya cocok untuk usaha tanaman singkong dan jagung.

“Untuk usaha investasi bertanam padi di Sumatera Barat sudah maksimal dan tidak bisa ditambah lagi. Hal ini juga ada program pembukaan cetak sawah baru dengan dana 19 juta per hektar. Saat ini hampir tidak ada kabupaten yang mau mengambil,” ujar dia, Jumat.

Menurutnya hal tersebut menandakan lahan persawahan sudah maksimal dan diketahui juga Sumatera Barat sudah swasembada pangan dalam kurun 10 tahun terakhir ini. Irwan mengaku bahwa kendati ada lahan yang kosong masih banyak, namun persoalan daerah lahan tersebut milik tanah ulayat.

“Maka jika ada investasi tanaman pangan ini tentu yang lebih dekat dengan budaya Sumatera Barat yaitu bagi hasil atau disapatigokan,” jelasnya.

Irwan mengharapkan Kemenhan dalam memberikan gambaran terhadap program BCLS soal lahan melakukan investigasi ke lapangan dahulu bersama dinas terkait, agar terlihat gambaran realita yang ada, khawatir nanti tidak membawa keuntungan bagi pihak yang mengelola BCLS ini.

Sementara itu Kakanwil Kemenhan, Choirul M, juga menyampaikan, konsep rancangan Perpres BCLS dengan tugas merumuskan dan mengkoordinasikan perencanaan, perumusan, pelaksanaan, pengendalian maupun evaluasi cadangan logistik strategis untuk pertahanan negara.

“Adapun yang mencakup cadangan logistik strategis mencakup, cadangan pangan strategis karbohidrat dan protein. Cadangan farmasi dan alat kesehatan serta obat-obatan, cadangan energi strategis bahan bakar minyak terbarukan,” ujarnya.

Choirul juga mengatakan, khusus produk singkong Indonesia lebih baik dari negara Thailand 22 ton per ha, China 16 ton per ha, Vietnam 19 ton per ha, sedangkan Indonesia ada 23 ton per ha.

“Singkong sebagai sumber nutrisi memiliki kandungan makronutrien dan mikronutrien. Dan di Indonesia lumbung singkong belum mendunia. Seiring waktu produksi terus turun karena minimnya investor dan dana bagi petani,” katanya.

Menurutnya, produk-produk turunan dasar singkong dapat menjadi pasta/mie, tepung tapioka, tepung MOCAF, makanan ternak, mutiara boba, bioplastik, obat-obatan dan biofuel dari akar singkong.

“Produksi singkong dapat berkurang, juga jumlah ekspor bahan baku tepung dan devisa yang digunakan. Produksi singkong untuk 30.000 ha (1 pabrik per 30.000 ha  diperlukan tenaga kerja setingkat 4 batalyon). Timeline singkong tahun 2024 menuju pembukaan lahan 1 juta ha,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat, Syafrizal, juga menyampaikan saat ini lahan yang potensial bagi investor BCLS, aman dan nyaman itu ada 11 ribu ha di ruang silaut Pesisir Selatan dan 54 ribu ha di Siberut kepulauan Mentawai.

“Jika ada investor tanaman singkong untuk Sumbar, kita akan lakukan peninjauan ke lapangan menanyakan siapa pemiliknya, luas lahan. Kita tawarkan kerjasama pada lahan kosong mereka untuk membuka kemajuan investasi ini,” katanya.

Namun di sisi lain, Syafrial juga mengatakan, jejeng adalah juga tanaman ketahanan selain padi. Ada pula jagung dan singkong. Jagung sangat baik dalam perkembangan ekonomi.

“Jagung dapat panen 4 kali setahun, sementara tanaman singkong butuh waktu panen 8 bulan untuk mendapatkan penghasilan, karena itu kita mengarahkan pada tanaman jagung,” ungkapnya.

Lihat juga...