Irigasi Lancar Kunci Sukses Petambak Udang Sistem Tradisional di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah petambak di wilayah pesisir Timur Lampung Selatan (Lamsel) masih dominan menerapkan sistem budidaya tradisional. Hal tersebut didukung dengan lokasi tambak yang berada di tepi pantai Bakauheni, Sragi, Ketapang yang menjadikan irigasi tetap lancar meski kemarau.

Sutiyo, petambak udang vaname di Dusun Penobakan, Desa Bakauheni menyebutkan, ia menerapkan sistem tambak tradisional karena menyesuaikan modal. Potensi kanal alami yang mengalirkan air laut dimanfaatkan warga untuk usaha pertambakan.

“Saluran irigasi yang terjaga kebersihannya bisa menjaga keberlangsungan budidaya tambak udang,” terang Sutiyo saat ditemui Cendana News, Senin (10/8/2020).

Keberadaan irigasi tambak partisipatif, menurut Sutiyo menjadi fasilitas vital bagi keberlangsungan budidaya. Sebagai petambak tradisional ia memanfaatkan sirkulasi air tambak menggunakan kincir.

Penggunaan kincir dilakukan untuk menjaga kestabilan air dan dikombinasikan dengan budidaya ikan bandeng yang berfungsi untuk menjaga kualitas air.

“Budidaya udang vaname sangat bergantung pada kualitas air dengan mengandalkan irigasi yang terjaga,” paparnya.

Hasanudin, petambak udang di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi menyebut irigasi bersumber dari sungai Way Sekampung yang dekat dengan muara. Petambak di wilayah itu dominan membangun tambak di dekat aliran sungai pembatas antara Lampung Timur dan Lamsel tersebut.

“Ada kanal kanal primer yang tersambung ke kanal sekunder sehingga petambak tradisional tetap bisa produktif,” paparnya.

Musim kemarau diakuinya berimbas pasokan air irigasi untuk tambak lebih berkurang. Sebab air sungai Way Sekampung dari wilayah Pesawaran, Lampung Tengah mengalami dampak penyusutan air. Kebutuhan air tetap bisa dipenuhi dengan fase pasang air laut yang terdorong ke aliran sungai Way Sekampung. Ia tetap memakai mesin pompa untuk mengalirkan air dari kanal ke lahan tambak.

Satu hamparan tambak seluas dua hektare ditebar bibit sebanyak 5000 benur. Saat panen dalam kondisi bagus bisa mendapat hasil sekitar 3,5 ton. Selain udang hasil yang diperoleh berupa ikan bandeng dan kakap putih. Udang vaname bisa dijual seharga Rp46.000 hingga Rp56.000 dan bandeng Rp15.000 per kilogram.

“Hasil panen udang bisa dipergunakan untuk memasok sejumlah pasar di wilayah Bakauheni dan Ketapang,” cetusnya.

Nursanti, salah satu pedagang udang vaname menyebut pasokan selalu bisa dipenuhi dari petambak di pesisir timur. Sebagian petambak yang tetap beroperasi bisa tetap menghasilkan udang, ikan bandeng untuk sejumlah usaha kuliner.

Pasokan yang tetap lancar dari petambak menurutnya membuat harga tetap stabil. Udang vaname dijual olehnya seharga Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram.

Lihat juga...