Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, Perspektif Kearifan Sejarah

OLEH: HASANUDDIN

AJARAN Islam yang terdapat intisarinya dalam Al-Quran pasti kebenarannya, dan pasti akan terwujud dalam pentas sejarah umat manusia.

Sudahkah terwujud Islam rahmatan lil ‘alamin tersebut? Belum. Kapan akan terwujud? Masih dalam rahasia Allah, namun telah tercatat dalam lauh mahfudz. Siapa yang memimpin ajaran Islam ini hingga terwujud menjadi rahmatan pada saatnya? Nabiullah Muhammad saw.

Bagaimana bisa, bukankah beliau telah meninggal? Ruh dan jasad beliau memang telah terpisah, namun keterpisahan ruh dengan jasad beliau itu, semata agar ruh beliau lebih leluasa menyaksikan proses perkembangan ajaran Islam tanpa terhalangi pandangan beliau akibat keterbatasan yang disebabkan karena masih bersatunya ruh dan jasad beliau.

Jawaban Bagi Kalangan Syiah

Nabiullah Muhammad saw itu, sosok yang paling agung dari semua ciptaan Allah swt. Diri beliau adalah manifestasi sifat-sifat Keilahian. Beliau berakhlak dengan akhlak Allah. Pandangan, pendengaran, penglihatan beliau, adalah pandangan, pendengaran dan penglihatan Allah. Bashiran wa nashira yang dianugerahkan Allah kepada beliau, menembus seluruh cakrawala, semesta alam. Yang gaib maupun yang syahada.

Tidak ada rahasia bagi beliau, apalagi setelah ruh beliau telah terpisah dari tubuhnya. Sedangkan semasa ruh beliau masih menyatu dengan jasadnya saja, beliau telah menyaksikan surga dan neraka, menyaksikan apa yang kelak akan dialami cucu beliau Hasan dan Husein. Menyaksikan bahwa Romawi dan Persia kelak akan ditaklukkan umat Islam, menyaksikan situasi umat islam pada masa kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib, menyaksikan bagaimana kematian putri kesayangan beliau Fatimah.

Sudah barang tentu, beliau juga tahu bahwa sepeninggal beliau, Allah telah merencanakan secara berturut-turut kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Sehingga semua tuduhan, dendam kalangan syiah, terhadap Abu Bakar, Umar, Usman, Aisyah dan para sahabat lainnya, semata menunjukkan ketdakpahaman atas diri Rasulullah Muhammad saw.

Demikian halnya dengan para penggiat khilafah. Mereka mengira bahwa serangan Mongol ke Bagdad yang dipimpin oleh Hulagu Khan, tanpa sepengetahuan Nabi. Bukan rencana Allah. Ketahuilah, semua itu sepengetahuannya, dan atas kehendak-Nya.

Hancurnya kesultanan Islam, empirium Islam termasuk Ottoman Empire, lalu disusul dengan perubahan penguasaan bangsa-bangsa Eropa, hingga saat ini, pahamilah semua itu tidak lebih dan tidak kurang ibaratnya hanya seperti perputaran siang dan malam. Bagian dari kehendak Allah, dan dalam skenario Allah, yang berada dalam pantauan dan pengamatan Rasulullah Muhammad saw.

Semua kejadian demi kejadian dalam pentas sejarah, telah disampaikan dalam Al-Quran. Tidak sedikit pun yang keluar dari skenario Allah swt.

Demokrasi dan segenap apa yang menyertai peradaban dunia dewasa ini, semua itu adalah tahapan proses dari bagaimana Allah sedang menjalankan rencana-rencana-Nya.

Mereka yang bingung dengan hal yang sedang terjadi, yang tidak mengerti apa yang sedang berlangsung, disebabkan karena menuruti hawa nafsunya, mengikuti logika berpikirnya saja, dan sedang tertutupi kepada cahaya-Nya.

Wahai manusia, tugasmu di dunia ini bukan untuk mengalahkan negeri-negeri lain, bukan untuk menumpuk harta benda, atau mengejar gelar kebangsawanan dunia, pemberian sesama manusia. Tugasmu ada untuk menyembah kepada Allah. Sembahlah Allah di mana pun, kapan pun, dalam sistem politik apa pun. Lakukanlah dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Tinggalkan egomu, hal-hal yang menjauhkanmu dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Taatlah hanya kepada-Nya, itulah tugasmu. Soal Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin, itu semua pasti akan terwujud, Anda terlibat atau tidak. Namun jika ingin terlibat dalam proses itu, jadilah hamba Allah yang taat. Dengan cara itulah Allah dan rasul-Nya, akan menyertakanmu mengambil bagian dalam proses terwujudnya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. ***

Hasanuddin, Ketua  Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) 2003-2005

Lihat juga...