Istriku tak Bisa Memasak

CERPEN SAM EDY YUSWANTO

MULANYA aku tak pernah mempermasalahkan ketidakbisaan istriku memasak. Dulu, saat kami belum menikah, ia pernah jujur mengatakan padaku perihal ketakbecusannya meracik bumbu-bumbu dapur, merajang bawang merah dan bawang putih, memotong-motong wortel, meruwes-ruwes kangkung, bayam, dan seterusnya.

“Mataku gampang berair kalau motong bawang merah,” ujarnya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa kala itu. Ia pun bercerita pernah mencoba iseng ikut masak di dapur bersama Mbok Sri, pembantunya yang setiap hari menyiapkan makanan untuk keluarga besarnya.

Dan ia langsung menyerah saat mencoba merajang bawang merah tapi kedua matanya berasa panas dan berair.

“Tapi aku janji akan belajar memasak, kok,” ujarnya kemudian.

“Kapan?” tanyaku sambil tersenyum.

“Ya, nanti kalau kita sudah menikah.”

Aku pun merasa cukup tenang mendengar penuturannya yang terdengar jujur dan keluar dari lubuk hati terdalam.

“Emang kamu mau nikah sama aku yang kere begini? Hehe,” aku terkekeh. Jujur aku masih tak yakin dengan ucapannya barusan.

Masa sih, Vira yang anak orang berada sudi menikah dengan lelaki yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Sudah lima tahun aku menjalani kehidupan sebagai penulis dan editor lepas di sebuah penerbit.

“Ya, minimal kan kamu udah kerja, udah ada penghasilan gitu,” ia tersenyum dengan manisnya. Membuat bunga-bunga tiba-tiba muncul bermekaran di dada.

“Tapi penghasilanku pas-pasan, lho,”

“Nggak masalah, kita bisa mengirit, kan?”

Akhirnya aku pun merasa yakin bila ia benar-benar serius pacaran dan mau menikah denganku. Waktu itu aku merasa menjadi lelaki paling beruntung dan bahagia di dunia; mendapatkan gadis cantik, anak orang kaya tapi mau menerima segala kekuranganku.

Singkat cerita, kami pun akhirnya menikah. Mulanya aku nyaman-nyaman saja tiap hari harus memesan makanan secara online dan akan dikirim sekian menit berikutnya. Namun, lama-kelamaan aku merasa hal ini tidak sehat, terlebih untuk kesehatan isi dompetku.

Aku merasa jemu. Terutama saat rasa lapar mendera tiba-tiba dan aku butuh makanan segera. Ribet kan harus buka ponsel terlebih dahulu, lalu memilih-milih makanan, lalu memesannya, dan baru datang sekian menit berikutnya, bahkan pernah makanan yang dipesan baru datang dua jam kemudian.

“Beb, katanya mau belajar masak,” tanyaku pelan suatu hari, tepatnya saat kami sedang menyantap makanan yang barusan dipesan lewat aplikasi gofood. Setelah menikah, kami memang bersepakat sama-sama memanggil satu sama lain dengan panggilan Bebi, ekspresi tanda sayang.

Tak kusangka, wajahnya berubah cemberut. Lalu, dengan nada datar ia berkata singkat, “Malas, Beb.”

“Eh, gimana kalau kita belajar masak bareng?” aku berusaha mencairkan suasana, berharap raut istriku kembali ceria.

“Malas ah, ribet,”

Jawaban istriku membuat rasa laparku hilang seketika dan berubah dengan rasa kesal yang tertahan.

“Jangan mudah tertipu, Wan, watak asli perempuan itu akan terlihat setelah ia menikah,” ucapan Rudi, sahabatku yang telah setahun menikah, entah kenapa tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga.

Dulu, ia mengatakan hal itu saat aku bercerita padanya perihal romantisnya masa pacaran yang kujalani bersama Vira. Sungguh tak kusangka, ucapan Rudi kini terbukti. Aku merasa, makin ke sini, watak istriku mulai tampak menyebalkan.
***
HARI ini, aku sengaja pergi ke minimarket tanpa mengajak istriku. Mulanya aku ingin mengajaknya. Tapi setelah berpikir dua kali, aku mengurungkannya. Aku khawatir ia tak mau dan malah membuat rasa kesal dan mood-ku jadi hilang.

Meski aku lelaki, tapi sejak kecil aku terbiasa melihat dan sesekali bantu-bantu ibuku masak di dapur. Kalau sekadar masak nasi di roce cooker, menjerang air, goreng telor, aku bisalah. Tapi kalau urusan bikin sayur, jujur aku menyerah. Hehe.

Sesampainya di minimarket, aku segera mengambil keranjang biru yang menumpuk di sebelah pintu masuk. Aku bergegas menuju rak berisi makanan instan. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah mie instan.

Aku pun mengambil beberapa mie instan aneka rasa, mulai yang kuah hingga yang goreng. Aku pikir, bikin mie instan sangat mudah. Tinggal cemplung ke dalam air mendidih beserta bumbunya. Beres.

Aku berharap semoga nanti istriku bisa mencobanya. Selain mie instan, aku juga membeli beras, telor ayam setengah kilogram, saus, kecap, penyedap rasa, garam yodium, minyak goreng, gula pasir, teh, kopi, dan beberapa kudapan seperti keripik singkong dan biskuit.

Setiba di rumah, istriku menyambut kedatanganku dengan raut penasaran.

“Wah belanja nggak ngajak-ngajak, nih,” sambutnya saat membukakan pintu.

“Biar surprise,” aku tersenyum.

Selanjutnya istriku tampak keheranan saat melihat isi dalam kantong kresek besar yang kubawa. Saat ia melihat keripik singkong rasa balado, bola matanya berbinar dan langsung menyambarnya  menyobek bagian tepi bungkusnya. Aku tersenyum melihatnya.

“Eh, kita masak mie, yuk, Beb.”

“Mie?” raut mukanya berubah lugu.

Aku mengangguk.

Istriku menggeleng dengan raut enggan.

“Nggak bisa, Beb,” ujarnya datar sambil terus asyik makan keripik.

“Aku ajarin.”

Istriku menggeleng.

Aku tersenyum tipis. Berusaha sabar. Selanjutnya, yang kulakukan adalah mengambil dua mie instan kuah rasa bakso, lalu memasaknya di dapur. Perutku sudah terasa lapar.
***
KETIDAKBISAAN istriku memasak akhirnya terbongkar oleh ibuku, tepatnya saat beliau dan Mbak Ratih, kakakku, berkunjung ke rumah kontrakanku hari ini.

Saat itu, ibu minta dibuatkan teh panas. Istriku tampak kebingungan saat berada di dapur. Ya Tuhan, aku baru tahu kalau istriku bahkan tak bisa cara menyalakan kompor gas. Mbak Ratih rupanya langsung paham dengan kondisi kami. Dialah yang kemudian menyiapkan air panas dan membuatkan teh manis untuk ibu dan kami semua.

Istriku tampak kikuk saat kami berbincang-bincang di ruang tamu. Mungkin ia merasa bersalah karena ketahuan oleh ibu mertua tidak bisa memasak. Tapi diam-diam dalam hati aku berharap semoga istriku tersadar dan nanti mau belajar memasak bersamaku.

“Wan, istrimu nggak bisa masak?” bisik ibu saat istriku sedang berada di toilet.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk ragu.

“Kok aku baru tahu, sih? Terus, selama ini yang ngapa-ngapain di dapur itu kamu?” cecar ibu masih berbisik sambil melirik ke belakang, mungkin khawatir bila istriku sudah keluar toilet dan mendengar percakapan kami.

“Tenang saja Bu, nanti kapan-kapan Ratih mampir ke sini, mau ajarin istrinya Iwan memasak,” Mbak Ratih ikutan komentar, berusaha menengahi, tentu dengan suara selirih mungkin. Percakapan kami pun langsung terhenti ketika terdengar pintu toilet terbuka.
***
KETIKA ibu dan Mbak Ratih pulang, tak kusangka istriku langsung marah-marah. Ia merasa malu kepergok tak bisa memasak oleh ibu mertua dan kakakku. Ia, berkali-kali menyalahkanku karena tak mengabari perihal kedatangan ibu dan Mbak Ratih.

“Lain kali bilang dong, kalau Ibu dan Mbak Ratih mau datang, jangan main tiba-tiba begini, kalau aku tahu Ibu mau datang kan aku bisa siap-siap.”

“Beb, aku juga nggak tahu kalau Ibu mau datang.”

“Halah, bohong, pasti kamu sengaja mau mempermalukan aku di depan Ibu dan Mbak Ratih. Iya, kan?”

Emosiku nyaris meledak mendengar ucapannya yang, selain dengan nada tinggi, juga dengan panggilan ‘kamu’, bukan ‘bebi’ sebagaimana biasa.

“Terserah deh kalau nggak percaya, aku pusing,” aku menepuk kening sendiri dengan perasaan kacau. Sementara istriku langsung tergesa masuk kamar sambil membanting pintu.

Brakk!! Terkejut bukan main saat aku menyaksikan istriku dengan begitu kasarnya membanting pintu. Sangat bertolak belakang dengan segala sikap manisnya selama masa pacaran.

“Ya Tuhan, kamu benar Rud, watak asli perempuan memang terlihat saat ia telah menikah,” aku bergumam refleks. Teringat perkataan Rudi. Ah, aku benar-benar pusing. ***

Sam Edy Yuswanto,  lahir dan berdomisili di kota Kebumen, Jawa Tengah.  Alumnus STAINU Fakultas Tarbiyah, Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Tiga buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain: Percakapan Kunang-Kunang, Kiai Amplop, dan Impian Maya.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...