Kelestarian Hutan Solusi dalam MenJaga Ketersediaan Air di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Terjaganya kelestarian hutan di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) mampu menjaga ketersediaan air untuk sejumlah kebutuhan. Serperti halnya hutan larangan atau hutan tutupan seluas lebih dari tiga hektare di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni. Bahkan sebelumnya daerah tersebut dikenal sebagai wilayah sulit air kala kemarau.

Sahbana, salah satu warga menyebutkan, kesadaran menjaga pohon yang dilakukan warga puluhan tahun mampu mengatasi sulitnya air kala kemarau. Bahkan saat ini sebuah dam untuk penampungan air telah dibuat sebagai penampungan air bersih bagi masyarakat..

“Masuk musim kemarau tahun ini, warga tidak perlu khawatir, dengan selang air bisa dialirkan ke perumahan warga. Sebagian lagi memakai sumur komunal agar bisa mendapat air untuk kebutuhan sehari hari,” terang Sahbana saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (5/8/2020)

Sahbana memastikan kelestarian hutan larangan telah menjadi tanggung jawab bersama. Selain sebagai penghasil mata air, keberadaan hutan larangan di wilayah tersebut menjadi habitat alami bagi berbagai jenis satwa. Vegetasi tanaman pohon yang berusia ratusan tahun bahkan menjadi habitat berbagai jenis burung elang, monyet dan ular sanca dan warga dilarang melakukan perburuan di kawasan tersebut.

Saimah, salah satu warga mengaku memanfaatkan air untuk mandi, cuci dan toilet dari sumur komunal. Sumur sedalam puluhan meter di Dusun Pematang Macan, Desa Kelawi jadi sumber kebutuhan air. Sebab sumur tersebut tetap menghasilkan air berkat terjaganya hutan dan kebun warga yang ditanami kayu keras.

“Kalau hutan digunduli dan lahan warga ditanami komoditas semusim akan berimbas sumur kering,” paparnya.

Kesadaran warga menanam pohon keras penghasil air telah diterapkan oleh Saimah dan warga lain. Jenis pohon avokad, jengkol, petai dan tanaman keras lain memberi hasil buah bernilai ekonomis. Selain itu nilai ekologis bisa terjaga dengan banyaknya pohon yang memiliki akar penahan air.

Idi Bantara, kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Way Seputih Way Sekampung menyebut konservasi hutan mutlak dilakukan. Sebab saat ini pemanasan global sedang terjadi imbas alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan. Sebagai lembaga vertikal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dukungan diberikan ke masyarakat dengan pengelolaan kawasan hutan.

Kawasan kesatuan pengelolaan hutan (KPH) binaan BPDASHL WSS disebutnya mencapai 16.500 hektare lebih. Kawasan tersebut tersebar di Pesawaran, Lamsel, Lampung Barat hingga Tanggamus. Pelibatan masyarakat dalam menjaga hutan berkaitan erat dengan menjaga kelestarian air.

“Hutan yang terjaga, di antaranya pada wilayah Gunung Rajabasa, bisa menjadi sumber pasokan air dan mendukung ekonomi masyarakat,”cetusnya.

Kesulitan masyarakat dalam memperoleh bibit diakui Idi Bantara telah dibantu KLHK. Sebab keberadaan persemaian permanen di Ketapang seluas 5 hektare menghasilkan bibit rata rata 2,5 juta tanaman.

Lihat juga...