Kerja Sama Dagang Khusus Disiapkan Komisi EU untuk Membantu Lebanon

Sukarelawan membersihkan jalan-jalan menyusul ledakan pada hari Selasa di area pelabuhan Beirut, Libanon, Rabu (5/8/2020) – Foto Ant

BRUSSEL – Komisi Uni Eropa (EU), siap membantu Lebanon dengan membentuk kerja sama dagang khusus (preferential trade) dan bantuan bea cukai.

Kepala Badan Eksekutif Komisi EU telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab, mengenai rencana tersebut. Tawaran dari Presiden Komisi EU, Ursula von der Leyen, diberikan usai kejadian ledakan pada Selasa (4/8/2020), yang menewaskan setidaknya 137 jiwa dan menyebabkan 5.000 orang luka-luka. Ledakan telah meluluhlantakkan pelabuhan Beirut dan mengguncang kota itu.

“Komisi ini siap siaga untuk menjajaki bagaimana dapat meningkatkan hubungan dagang dalam masa yang sulit ini, khususnya dalam bentuk kerja sama dagang khusus dan fasilitas bea cukai,” kata Von der Leyen.

Von der Leyen juga menawarkan bantuan dari EU, untuk membantu rekonstruksi Beirut dan pemulihan Lebanon. Serta bantuan dalam diskusi dengan institusi-institusi finansial internasional, untuk mengakses bantuan ekonomi lebih jauh lagi.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen – Foto Ant

Blok yang menaungi 27 negara itu telah mengirim lebih dari 100 pemadam kebakaran, sebuah kapal militer untuk evakuasi medis, dan mengaktifkan sistem pemetaan Satelit Copernicus untuk membantu menghitung kerugian.

Sementara itu, Bank Sentral dan negara bagian Lebanon menyebut, memiliki kapasitas keuangan sangat terbatas untuk menghadapi dampak ledakan gudang pelabuhan yang menghancurkan Beirut tanpa bantuan luar negeri.  “Kapasitas negara sangat terbatas, begitu juga dengan bank sentral dan bank-bank lainnya. Kami tidak bergelimangan uang dolar,” kata Menteri Ekonomi Lebanon, Raoul Nehme.

Nehme mengatakan, banyak negara bergegas untuk membantu, sementara nilai kerusakan akibat ledakan mencapai miliaran dolar AS. Untuk itu, bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF) disebut Nehme menjadi satu-satunya jalan keluar untuk Lebanon.

Tercatat, negara tersebut sudah bergulat dengan krisis dolar dan krisis keuangan, sebelum ledakan terjadi di Beirut pada Selasa (4/8/2020). Sedikitnya 135 orang tewas, dan 5.000 orang lainnya mengalami luka-luka karena ledakan yang terjadi di pelabuhan Beirut tersebut. Insiden itu juga menyebabkan sekitar 250.000 orang kehilangan tempat tinggal, setelah beberapa ledakan susulan mengguncang banyak bangunan. Masih belum ada kejelasan apakah bencana itu akan mengubah negosiasi alot Lebanon dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

IMF dan Lebanon sejak Mei telah mencoba menyusun paket dana talangan lebih luas, untuk membendung krisis keuangan, yang dipandang sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas negara itu sejak perang saudara 1975-90. Perundingan tersebut macet di tengah ketidaksepakatan mengenai skala kerugian finansial dalam sistem perbankan Lebanon. (Ant)

Lihat juga...