Ketela Pohon Bisa Diolah Jadi Gatot, Begini Pembuatannya

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Siapa yang tidak mengenal gatot? Ini bukan nama orang, namun olahan singkong fermentasi, yang tidak saja enak namun juga kaya serat. Bagi penggemarnya, cita rasa gatot bahkan tidak kalah dengan nasi.

Hal tersebut disampaikan Juhari, warga Tembalang Semarang. Setiap panen singkong, selain dijual, hasilnya juga diolah menjadi tape singkong hingga gatot. Istimewanya, hasil panen tersebut didapatkan dari pengolahan lahan kosong sebuah perumahan, yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Kebetulan saya tidak punya lahan atau kebun sendiri, namun ada lahan kosong milik perumahan, yang belum dibangun. Jadi masih tanah kosong. Hal itu kemudian saya manfaatkan untuk menanam beragam sayur mayur dan tanaman lain. Mulai dari terong, kacang panjang, cabai hingga ketela pohon,” paparnya, saat ditemui di Semarang, Senin (31/8/2020).

Sejauh ini, selain dikonsumsi sendiri dan dijual mentah, hasil panen tersebut juga diolah. Salah satunya dibuat makanan gatot.

“Sekarang ini karena nasi, sudah mudah didapat, orang jadi jarang makan gatot. Padahal kalau menurut saya, rasa gatot juga tidak kalah dibanding nasi, namun mungkin karena pengolahannya cukup rumit, jadi orang lebih memilih nasi,” terangnya.

Dijelaskan, dari kebun yang diolahnya, Juhari mengaku bisa menghasilkan sekitar 80 kilogram ketela pohon. Dari hasil tersebut, sekitar 10 kilogram dibuat gatot, sementara sisanya di dijual. “Kalau gatot ini tidak dijual, hanya dikonsumsi sendiri,” tambahnya.

Untuk membuat gatot, ketela pohon yang sudah dipanen, dikupas kulitnya kemudian dijemur. Lama penjemuran tergantung dengan kondisi cuaca, namun setidaknya kurang lebih seminggu. Dalam proses penjemuran tersebut,  akan muncul jamur hasil fermentasi, yang mengakibatkan ketela pohon berubah warna kehitam-hitaman.

“Setelah itu, ketela pohon yang sudah jemur atau disebut gaplek ini,  direndam sampai ketela tersebut kenyal, lalu dicuci bersih, kemudian dipotong-potong kecil-kecil. Baru kemudian dikukus sampai empuk,” lanjutnya.

Dalam prose perebusan tersebut bisa ditambahkan, gula merah atau garam, agar lebih berasa. “Setelah matang atau empuk, gaplek kukus yang namanya berubah jadi gatot ini kemudian ditambah parutan kelapa dan garam. Rasanya enak, gurih manis,” terangnya.

Kegemarannya makan gatot tersebut, juga diikuti oleh anak-anaknya. Salah satunya, Johan.

“Sebelumnya, tidak yakin, apa enak, karena ini singkong yang dijemur sampai menghitam kemudian dikukus, tapi setelah dicoba, ternyata enak. Selain itu juga mengenyangkan. Jadi kalau setiap kali bapak panen singkong, sekarang dibikin gatot,” paparnya.

Diakuinya, sebagai generasi yang lahir di era 1980-an, makanan gatot, terutama di Kota Semarang, sangat jarang menemukannya. “Apalagi pembuatan gatot ini juga cukup rumit. Bapak bikin gatot ini, juga baru setelah pensiun dan beralih profesi menjadi petani,” tandasnya.

Terpisah, Kaprodi S1 Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Yuliana Noor Setiawati Ulvie, S.Gz, M.Sc, menerangkan gatot merupakan salah satu hasil pengolahan bahan pangan lokal, dari ketela pohon.

“Dari segi gizi, kandungannya juga tidak kalah dengan makan pokok lainnya seperti beras, tiwul, atau nasi jagung. Setelah diolah, kandungan asam amino atau protein dalam gatot lebih besar dibanding bahan pembuatannya, ubi kayu atau ketela pohon,” terangnya.

Hal ini terjadi, karena keberadaan jamur yang memproduksi protein dari bahan pati ubi kayu. “Jadi bisa disimpulkan, bahwa gatot merupakan salah satu makanan, yang kaya akan gizi dan dapat di jadikan sebagai makan pokok pengganti beras,” pungkasnya.

Lihat juga...