Makna “Dua Jari” Allah dari Sisi Batin

OLEH: HASANUDDIN

BERKATA Syekh Ibnu Arabi —(dan uraian berikut ini adalah penjelasan beliau)— dua jari Allah swt, adalah rahasia kesempurnaan Zati. Jika ia disingkapkan pada pandangan mata di hari kiamat kelak, manusia akan tanpa segan menangkap bapaknya sendiri, jika ia adalah orang kafir–dan melemparkannya ke neraka dengan tanpa rasa penyesalan dan kasihan sedikit pun padanya.

Melalui “dua jari” ini,  yang satu maknanya namun diduakan dalam lafalnya tercipta surga dan neraka serta merupakan manifestasi nama Allah Yang Maha Pemberi Cahaya (Al-Munawwar) dan Al-Muzlim (Maha Pemberi Kegelapan), Maha Pemberi Kenikmatan (Al-Mun’im) dan Maha Penuntut Balas (Al-Muntaqim).

Empat nama ini, yang merupakan manisfestasi “dua jari” ini jangan engkau bayangkan “dua jari” tersebut sebagai dua dari sepuluh jari tangan. “Kedua tangan-Nya adalah tangan kanan”. Ini adalah jenis ma’rifat yang dapat dilalui melalui kasyf. Para penghuni surga akan menikmati dua kenikmatan: kenikmatan surga dan kenikmatan (menyaksikan) azab para penghuni neraka di dalam neraka. Begitu juga dengan penghuni neraka, mereka mendapatkan dua azab. Azab neraka dan azab menyaksikan kenikmatan yang diperoleh para penghuni surga.

Kedua kelompok tersebut sama-sama melihat Allah swt. dengan penglihatan nama-nama seperti waktu mereka di dunia. Selain itu, dalam ungkapan tentang “Dua Genggaman Allah swt, (Al-Qabdatyn) yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, berkenaan dengan Al-Haqq juga terdapat rahasia dan makna dari apa yang diisyaratkan di atas sebagaimana firman-Nya:

 “Dan Allah senantiasa mengatakan kebenaran Dia selalu menunjukkan jalan” (QS. 33:4).

Allah swt juga berfirman: “Bumi seluruhnya ada dalam Genggaman-Nya” (QS. 39:67).

“Langit-langit dilipat dengan  Tangan Kanan-Nya” (QS. 39: 67).

Di awal ayat ini, Allah swt mengatakan bahwa Dia tidak mungkin bisa terukur dan ternilai untuk penyerupaan dan penjasadan yang diambil secara tergesa-gesa oleh akal yang lemah saat disampaikan ayat atau berita  kenabian yang dari salah satu aspeknya menunjukkan hal tersebut. Kemudian Dia berfirman setelah ‘tanzih’ yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berilmu. “Dan Bumi seluruhnya ada dalam Genggaman-Nya” (QS. 39:67).

Dalam konteks linguitas bahasa Arab, kita tahu bahwa jika dikatakan: “si fulan berada dalam genggamanku,” berarti orang tersebut berada dalam hukum dan aturanku. Walaupun tidak ada sesuatu pun bagian dari orang tersebut ada dalam tanganku. Dengan pola yang sama, aku mengatakan (hartaku berada dalam genggamanku), atau berada dalam kepemilikanku dan aku memiliki wewenang menggunakannya, dengan kata lain, ia tidak terlarang bagiku. Ketika aku telah menggunakan harta itu, maka pada saat aku menggunakannya aku bisa berkata: “Harta itu dalam genggamanku”. Karena aku leluasa menggunakannya, meskipun sebenarnya yang menggunakan harta itu (secara langsung) adalah para pembantuku berdasarkan izin dariku.

Karena mustahil adanya anggota tubuh bagi Allah swt., maka akal mengarah kepada ruh, di mana makna dan kegunaan dari kata “genggaman”, yaitu kepemilikan terhadap sesuatu yang tergenggam dari segi keadaan. Meskipun si penggenggam itu tidak benar-benar menggenggam sesuatu apa pun darinya, tetapi sesuatu itu benar-benar berada dalam genggamannya.

Demikianlah Allah swt., bagaimana alam semesta berada dalam Genggaman Al-Haqq swt di negeri akhirat. Bumi hanya menunjukkan sebagian dari apa yang dimiliki dan berada dalam kekuasaan Allah swt. Seperti ketika aku mengatakan, “Pembantuku berada dalam genggamanku”. Padahal ia hanya salah satu dari banyak orang yang berada dalam genggamanku, dan aku menyebutkannya khusus, karena suatu kejadian tertentu.

Mengenai “tangan kanan” menurut kami ia adalah tempat untuk penggunaan kekuatan secara mutlak, karena tangan kiri tidak sekuat tangan kanan. Karena itu, Allah swt., memakai perumpamaan tangan kanan (pada ayat di atas) yang menunjukkan pada kemampuan untuk melipat. Tangan kanan menjadi isyarat untuk kemampuan melakukan suatu perbuatan. Melalui lafal-lafal yang bisa dimengerti oleh orang Arab, pemahaman makna Al Quran bisa sampai ke mereka dan dapat diterima lebih cepat. Sebagaimana ungkapan penyair:

“Andai kata ada bendera yang diberikan untuk kemuliaan, niscaya Arabah akan menerimanya dengan tangan kanan”.

Kemuliaan (majd) tidak benar-benar memiliki bendera dalam bentuk fisik, sehingga tidak mungkin diterima oleh tangan kanan secara fisik. Si penyair seakan berkata di sini, “Andai untuk kemuliaan terdapat sebuah bendera dalam bentuk fisik, niscaya ia akan berada atau dibawa oleh tangan kanan Arabah Al-Awsi ra”. Atau bisa juga berarti sifat “kemuliaan” ada pada diri Arabah dan sempurna dalam dirinya.

Orang Arab seringkali menggunakan lafal-lafal fisik anggota badan untuk hal-hal yang tidak memiliki fisik disebabkan adanya kesamaan makna antara keduanya.

——-

“Dan Allah senantiasa mengatakan kebenaran dan Dia selalu menunjukkan jalan” (QS. 33:4). ***

Lihat juga...