Malam Suro Dipastikan Tugu Soeharto Ramai Peziarah

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Bagi masyarakat Jawa yang kental akan tradisi dan budaya leluhur, peringatan malam Tahun Baru Hijriyah atau lebih dikenal dengan malam 1 Suro, tidak hanya dilewatkan begitu saja.

Malam 1 Suro identik dengan ritual adus keramas (mandi keramas), larung, hingga kungkum atau berendam. Hal tersebut sebagai simbol untuk membuang sial, membersihkan diri dan menyambut datangnya tahun baru, dengan harapan baru.

Di antara ritual tersebut, bagi masyarakat Semarang dan sekitarnya, topo kungkum atau berendam di aliran sungai di sekitar monumen Tugu Soeharto menjadi pilihan utama.

Tokoh masyarakat Kalipancur, Supadi, saat ditemui di Semarang, Rabu (19/8/2020). –Foto: Arixc Ardana

Lokasi tugu tersebut terletak di antara pertemuan dua arus sungai, yaitu dari sungai Kreo dan Ungaran, yang masuk wilayah Kelurahan Kalipancur, Semarang.

Ritual ini mengacu pada apa yang pernah dilakukan Presiden ke-2 Republik Indonesia, HM Soeharto, pada saat masih berdinas militer di Jawa Tengah.

Saat itu, beliau masih menjabat sebagai Komandan Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro, yang kemudian berubah nama menjadi Kodam IV/Diponegoro pada 1956-1959.

“Dulu konon ceritanya, Presiden Soeharto yang kala itu berpangkat mayor bertugas di Semarang dalam perang melawan Belanda. Dalam sebuah peperangan, karena terdesak, beliau melompat ke sungai, kemudian menancapkan tongkat dan berendam di sana. Sehingga lolos dari kejaran musuh,” papar salah seorang tokoh masyarakat Kalipancur, Supadi, saat ditemui di Semarang, Rabu (19/8/2020).

Ritual tersebut kemudian dilanjutkan Soeharto, saat bertugas kembali di Semarang sebagai komandan Tentara & Teritorium IV/Diponegoro.

“Masyarakat yang percaya pada aliran kejawen Pak Soeharto, ikut melanjutkan tradisi berendam atau kungkum di area tersebut, hingga sekarang. Ini juga menjadi bagian dari tapak tilas perjuangan beliau,” paparnya.

Monumen Tugu Soeharto yang mulai dibangun sekitar 1970-an, Rabu (19/8/2020). –Foto: Arixc Ardana

Sementara terkait proses pembangunan monumen Tugu Soeharto, dipaparkan mulai sekitar 1970-an. Setelah dibangun, banyak masyarakat yang melakukan ritual berendam atau mandi di sungai tersebut, saat malam 1 Suro.

Hal senada juga disampaikan Ketua RW I Kalipancur, Suharno. Menurutnya, jelang malam 1 Suro banyak warga tidak hanya dari Semarang, namun juga luar daerah, yang berdatangan untuk melakukan ritual kungkum di lokasi tersebut.

“Ini sudah menjadi tradisi tahunan, termasuk pada tahun ini, meski masih dalam pandemi Covid-19, namun saya yakin pasti ada yang melakukan ritual kungkum,” terangnya.

Jika berkaca pada malam 1 Suro tahun lalu, jumlah peserta topo kungkum bisa mencapai puluhan orang. “Kita persilakan bagi masyarakat yang akan melalukan ritual, namun di tengah pandemi ini, saya berharap tetap menerapkan protokol kesehatan. Kalau bisa jangan bergerombol, ada jaga jarak dan pakai masker,” paparnya.

Di satu sisi, tingginya minat warga untuk melakukan ritual kungkum di sekitar lokasi Tugu Soeharto, diharapkan juga mampu menjadi destinasi wisata budaya atau tradisi.

“Harapannya ini kalau bisa kita kemas dengan lebih baik, tentu bisa menjadi daya tarik yang unik dan menarik, sebab tidak semua daerah memilikinya,” pungkas Suharno.

Lihat juga...