Masa Tanam Singkat Jadi Alasan Petani Tanam Jagung Meski Harga Anjlok

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Alih fungsi lahan sejumlah lahan perkebunan kelapa, kayu keras menjadi lahan pertanian jagung banyak dipilih petani. Jeminten, petani di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut tanaman tersebut lebih cepat dipanen, maksimal empat bulan.

Semula lahan seluas satu hektare miliknya merupakan lahan perkebunan kelapa dan tanaman buah. Namun imbas produktivitas rendah dan sebagian telah dijual menjadi bahan bangunan membuat ia beralih menanam jagung. Varietas bisi, hibrida, NK dan sumo jadi pilihan bagi petani di wilayah tersebut karena memiliki bobot yang lebih bagus.

Biji jagung hasil pertanian petani di Ketapang dan sekitarnya dominan menjadi bahan baku pakan unggas.  Meski kendala harga kerap anjlok ia menyebut tetap memilih tanaman tersebut, sebab proses pengolahan lahan, perawatan hingga panen mudah dilakukan.

“Saat ini tersedia alat dan mesin pertanian untuk memudahkan pengolahan lahan dengan traktor, penebaran bibit dengan corn seeder hingga alat pemanen sehingga memudahkan petani,” terang Jeminten saat ditemui Cendana News, Senin (10/8/2020).

Tanpa penggunaan alat modern penanaman jagung bisa menjadi sumber penghasilan bagi petani lain. Sebab para buruh tanam, buruh panen hingga buruh angkut bisa memperoleh penghasilan.

Hasil panen akan dijual dengan sistem gelondongan seharga Rp80.000 hingga Rp100.000 per karung. Sementara jagung pipilan yang telah dirontokkan akan dijual dengan harga Rp2.800 hingga Rp3.000 per kilogram. Hasil panen akan dibeli oleh pengepul yang akan langsung dibawa ke pabrik.

“Menanam jagung resikonya hama penyakit, harga anjlok, pupuk mahal namun tetap bisa balik modal bahkan untung,” cetusnya.

Sumino, salah satu petani mengaku memilih menjadi buruh angkut saat tidak ada pekerjaan lain. Sebab rata rata mendapat upah sebesar Rp5.000 per karung. Sehari mendapatkan lebih dari 10 karung saja ia bisa mengantongi rata rata Rp50.000 hingga Rp80.000.

“Buruh tanam hingga buruh panen menjadi salah satu sumber penghasilan bagi petani yang tidak memiliki lahan,”cetusnya.

Subamio, petani penggarap di Bakauheni, Kecamatan Bakauheni menyebut memilih menanam jagung dibandingkan tanaman lain. Semula lahan seluas dua hektare ditanami sengon namun usai panen ia memilih mengontrak lahan warga. Menghasilkan sekitar 5 ton sekali panen ia bisa mendapat hasil Rp14 juta dengan harga jual Rp2.800 per kilogram.

“Sekarang memasuki masa tanam semester kedua tanaman mulai butuh disemprot imbas gulma rumput,” paparnya.

Agus Irawan, salah satu petani di Bakauheni menambahkan pilihan menanam jagung karena lebih menguntungkan. Proses perawatan lebih mudah dibandingkan menanam komoditas jenis lain.

Pilihan menanam jagung jadi alternatif bagi petani sepertinya karena modal bisa dihutang. Sejak pembelian bibit, obat obatan dan pupuk ia bisa meminjam dari pengepul atau bos. Saat panen hasil akan dikurangi dengan hutang yang telah dipinjam. Cara tersebut jadi pilihan bagi petani yang memiliki modal terbatas namun tetap bisa bertani. Pasokan air untuk tanaman diperoleh dengan memanfaatkan sumur bor saat kemarau sehingga tetap produktif.

Lihat juga...