Masyarakat Harapkan Penambahan Armada Feeder Trans Semarang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Sarana transportasi umum, khususnya angkutan pengumpan atau feeder yang layak, bersih, nyaman dan aman, sangat dibutuhkan masyarakat perkotaan. Termasuk bagi mereka yang bertempat tinggal di wilayah perumahan, atau lokasi yang tidak dilalui angkutan umum.

Plt Kepala BLU Trans Semarang, Hendrix Setyawan, memaparkan selain terintegrasi dengan BRT Trans Semarang, rute feeder sengaja ditempatkan di jalur-jalur yang belum terjangkau transportasi umum,saat ditemui di Semarang, Senin (10/8/2020). Foto Arixc Ardana

“Antusias masyarakat menggunakan feeder cukup tinggi, terlebih transportasi ini juga terintegrasi dengan BRT (bus rapid transit) Trans Semarang. Sejauh ini, feeder sengaja kita tempatkan di jalur-jalur yang belum terjangkau transportasi umum,” papar Plt Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Hendrix Setyawan di Semarang, Senin (10/8/2020).

Sejauh ini, Trans Semarang sudah mengoperasikan tiga koridor feeder antara lain feeder I dengan rute Ngaliyan – Madukoro, feeder II Bangetayu – Kaligawe, dan feeder IV BSB – Unnes.

Dengan adanya feeder, masyarakat dapat terhubung dengan berbagai koridor BRT. Cukup bayar sekali, dapat menikmati layanan transportasi feeder yang menjangkau sampai masuk ke perumahan. “Bayar sekali sampai tujuan, dapat berpindah dari feeder ke BRT sudah tidak membayar lagi,” terang Hendrix.

Besaran tarif feeder dan BRT pun cukup terjangkau, Rp 3.500 untuk umum, serta bagi pelajar/mahasiswa, veteran dan lansia Rp 1.000, dan bisa dibayar dengan non-tunai

“Respon masyarakat cukup bagus, dalam layanan feeder di tiga koridor yang ada. Rata-rata per bulan, jumlah penumpang untuk Feeder I sekitar 7.300 penumpang, feeder II 6.600 penumpang, sementara feeder IV sekitar 9.000 penumpang,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya juga berencana untuk menambah satu lagi rute feeder, atau feeder III, namun masih dalam tahap kajian. “Sebenarnya sudah berjalan, namun kemudian kita revisi dulu, sebab terlalu panjang dan ada gesekan dengan angkot dan koridor lain. Saat ini, beberapa alternatif rute baru sudah disiapkan, tinggal menunggu rute mana yang akan diputuskan,” tambah Hendrix.

Terpisah, salah satu pengguna feder koridor IV, Hasanah, mengaku terbantu dengan adanya angkutan feeder, yang melintas di kawasan BSB Semarang. Selama ini, sebelum ada feeder tersebut, dirinya lebih banyak menggunakan transprotasi online atau taksi.

“Kini sejak ada feeder koridor IV, lebih terbantu, karena harganya lebih murah. Selain itu juga nyaman dan aman,” terangnya.

Di satu sisi, dirinya pun berharap, jumlah armada bisa ditambah sehingga waktu waktu tunggu kedatangan armada tidak terlalu lama. “Selain itu juga harapannya, jam operasional bisa lebih malam, sehingga kalau ada kegiatan yang harus sampai malam, bisa tetap bisa terakomodasi,” papar pekerja swasta tersebut.

Sementara, pengamat transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan, pentingnya angkutan umum untuk saling terintegrasi. Hal itu meningkatkan kenyamanan, mengurangi waktu dan biaya perjalanan, serta mengurangi kemacetan.

“Dengan adanya feeder ini, tentu membantu masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di perumahan, atau wilayah-wilayah yang tidak dilewati transportasi umum. Di satu sisi, di tengah pandemi covid-19, penyedia layanan juga harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, termasuk menerapkan jarak antar penumpang,” pungkasnya.

Lihat juga...