MUI: 75 Tahun, Indonesia Harus Berdaulat Terbebas Oligarki Kekuasaan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Wakil Ketua Umum MUI, KH.Muhyiddin Junaidi pada acara webinar Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI di Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap Indonesia pada usia 75 tahun kemerdekaan lebih berdaulat secara ekonomi, politik, sosial dan budaya yang terbebas dari sistem oligarki kekuasaan.

Wakil Ketua Umum MUI, KH. Muhyiddin Junaidi mengatakan, untuk ukuran manusia, usia 75 tahun itu sudah seharusnya sangat dewasa dalam bersikap, bertindak, berpikir dan segalanya.

Tapi untuk sebuah negara, sudah jelas negara ini dimerdekakan dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga jutaan penduduk Indonesia, karena selama 3,5 abad di bawah penjajahan Belanda.

“Kami berharap pada usia atau HUT ke 75 tahun ini, Indonesia lebih berdaulat secara ekonomi, politik, sosial dan budaya,” ujar Muhyiddin kepada Cendana News saat dihubungi Sabtu (15/8/2020) pagi.

Berdaulat secara ekonomi jelasnya, bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri, tidak mengandalkan pada sumbangan utang-utang luar negeri.

Utang luar negeri di umur ke 75 tahun ini, justru semakin membebani negara. Sehingga dikhawatirkan apabila ini tidak bisa dibayarkan, maka akan diwariskan ke generasi yang akan datang.

“Jangan sampai kita mewariskan generasi muda dengan utang. Kita harus mewariskan mereka itu dengan karya-karya nyata, perbuatan dan inovasi berharga dari anak-anak bangsa,” tukasnya.

Kedaulatan ekonomi, tambah dia, adalah sumber daya alam yang melimpah riuh yang diberikan kepada Indonesia dimanfaatkan sesuai dengan pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dieksplorasi untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Bukan untuk segolongan orang saja.

“Sementara kekayaan itu hanya baru dinikmati oleh segelintir anak bangsa. Kita berharap daulat ekonomi. Daulat dalam pengertian terbebas dari sistem oligarki kekuasaan,” tegasnya

Muhyiddin berharap tidak ada lagi mafia-mafia dan kartel-kartel yang sangat merusak sistem dan bangsa Indonesia.

Demikian daulat dari sisi politik, dikatakannya, Indonesia jangan sampai mengekor kepada sebuah negara besar. Indonesia harus bebas dalam berpolitik.

“Maka kebijakan politik luar negeri kita adalah bebas aktif,” imbuhnya.

Berdaulat dari sisi budaya, menurutnya, sangatlah jelas kita tidak boleh mengekor kepada budaya asing. “Salah satu kekuatan bangsa adalah budaya,” ujarnya.

Menurutnya, budaya itu bukan hanya musik, tapi juga budaya disiplin, budaya malu menggunakan uang rakyat, budaya dan budaya cinta tanah air.

Budaya-budaya itu harus kita tumbuh kembangkan agar bangsa Indonesia ini betul-betul menjadi negara yang terhormat.

“Jadi, semoga milad ke 75 tahun ini, Indonesia bisa independen, berdaulat. Insha Allah negara ini akan mendapatkan keberkahan, kedaulatan dan kemakmuran,” tutupnya.

Lihat juga...