Neraca Perdagangan Buah Indonesia Masih Defisit

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan masyarakat Indonesia belum gemar mengkonsumsi buah-buahan. Merujuk hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS September 2019, rata-rata konsumsi buah oleh masyarakat Indonesia hanya 41,95 kilogram kalori atau sekitar 67 gram per kapita per hari.

“Angka tersebut masih jauh lebih rendah dari rekomendasi konsumsi buah oleh World Health Organization (WHO), yaitu sebesar 150 gram per kapita per hari,” ujar Airlangga, dalam acara Gelar Buah Nusantara V yang dihelat di Jakarta, Senin (10/8/2020).

Padahal, kata Airlangga, di saat virus penyakit seperti saat ini mewabah, konsumsi buah sangat dibutuhkan, karena mampu meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh masyarakat.

“Saya berharap, program ini dapat terus digulirkan dan dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang dapat menjadi momentum kebangkitan buah Nusantara, dan memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk mencintai produk buah lokal, serta meningkatkan konsumsi buah Nusantara dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional,” ucapnya.

Selain itu, bila ditinjau dari aspek perdagangan, saat ini neraca perdagangan buah-buahan Indonesia masih defisit Rp19,1 triliun. Besarnya defisit tersebut dipengaruhi, terutama oleh impor 4 jenis buah-buahan, yaitu anggur, apel, jeruk, dan pir, dengan total nilai impor sebesar Rp16,7 triliun.

“Sedangkan untuk jenis buah-buahan yang memberikan kontribusi ekspor yang besar adalah manggis, nanas, pisang, salak, dan mangga dengan nilai Rp986,1 miliar,” terang Airlangga.

Sementara itu, di masa pandemi Covid-19 saat ini, impor buah pada triwulan I 2020 mengalami penurunan sebanyak 14,5 ribu ton, turun 45 persen dibandingkan impor di bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2019, impor buah turun hingga 54 persen.

Ada pun dari sisi produksi, buah lokal mengalami tren kenaikan produksi rata-rata dalam 4 tahun terakhir sebesar 10,12 persen.

“Kenaikan produksi buah lokal meningkatkan peluang ekspor, sekaligus juga substitusi buah impor, mengingat permintaan akan buah lokal juga meningkat sejak pandemi Covid-19, khususnya buah yang dapat meningkatkan imunitas tubuh dan memberikan manfaat kesehatan,” kata Airlangga.

Di forum yang sama, Rektor IPB University, Arif Satria, mengatakan, dibutuhkan peran teknologi berbasis 4.0 untuk bisa meningkatkan produksi buah. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence amat dibutuhkan dunia pertanian, untuk bisa memetakan potensi produksi, sekaligus bisnis yang memiliki prospek positif.

“Saat ini kita sudah harus sampai pada tahap percepatan transformasi teknologi, agar Indonesia tak lagi tertinggal dari negara lain. Mekanisasi dari tahap penyiapan lahan, pemupukan, hingga panen membutuhkan teknologi otomatisasi, agar kualitas buah yang diperoleh jauh lebih baik,” ungkap Arif.

Lebih lanjut Arif menilai, saat ini juga kecil kemungkinan bagi generasi muda turun, seperti buruh, mereka lebih tertarik menjadi pemilik bisnis. Karena itu, mekanisasi dalam proses budi daya tanaman harus dimulai dengan teknologi 4.0.

“Rata-rata petani di Indonesia, khususnya buruh tani yang bekerja di lapangan sudah berusia 47 tahun. Kita harus mencetak generasi milenial by design, bukan by accident. Dengan begini, mereka bisa hadir menjadi pelaku usaha,” pungkasnya.

Lihat juga...