Nexus

CERPEN POLANCO S. ACHRI

ADALAH kau, Nona, seorang yang membuatku memberanikan diri menjadi astronot. Meskipun, sebenarnya aku lebih ingin menjadi seorang penyair—yang dalam buku sejarah sastra selalu digambarkan sebagai seorang yang hidup terlunta.

Akan tetapi, sepertinya akan sama saja. Toh, di sana, aku tetap bisa menulis puisi. Meskipun, aku sering teringat ucapan seorang kawan, yang sudah jadi seorang esais kenamaan: “Untuk apa menulis puisi di luar angkasa?—Apakah akan berguna?”

Ah! aku sendiri masihlah belum tahu, dan barangkali saja keberangkatanku ke sana adalah sebuah pembuktian, serta upaya memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Awal tahun 2098, aku mulai mengikuti pelatihan menjadi astronot. Beberapa tahun setelahnya, sesudah penantian yang membosankan, aku diizinkan untuk mengikuti sebuah pelayaran. Aku hanyalah seorang yang tugasnya memantau layar dan mengingatkan jadwal.

Mungkin, aku memang seorang yang payah. Akan tetapi, setidaknya aku tetaplah seorang atronot, Nona, yang dibekali sebuah misi: “Menemukan rumah baru untuk umat manusia!”

Memang terlampau luhur. Walaupun, tetap saja bisa kubaca, bahwa itu semua adalah sebuah upaya bisnis dalam rupa yang baru. Betapa, terlalu banyak sponsor dan penanaman saham dalam misi ini, Nona. Namun, aku tetap saja menjalankannya.

Hari-hari yang kulakukan hanyalah membaca, dan buku yang kusuka adalah sebuah buku yang terlalu lama—dan kurang disuka: Ziarah, karya Iwan Simatupang. Aku sempat membayangkan bahwa luar angkasa lebih cocok dijadikan kuburan dibandingkan perumahan.

Betapa, hari-hari di sini, di dalam kapal angkasa ini, kian menjadi sunyi yang terlalu akrab. Tak di bumi, tak pula di angkasa ini, aku tetaplah seorang yang asing—dan terasingkan.

Saat diterangkan teori Big Bang, aku selalu membayangkan bahwa alam semesta ini dulunya adalah sebuah kembang Dandelion yang sudah memutih, dan ditiup oleh-Nya. Ada juga hal lain yang membuatku senang menjadi seorang astronot, yaitu kenyataan bahwa luar angkasa adalah tempat yang cocok untuk seseorang yang tak bisa menangis—seperti diriku!

Seorang penyair yang tidak terlalu terkenal dari masa silam menuliskan: Bahwa langit adalah masa lalu, dan manusia adalah kesementaraan yang senang memandangnya! Aku pun begitu, Nona. Bahkan, setelah sebuah asteroid menabrak kapal angkasaku dengan kencang, dan hanya diriku yang kudapati selamat.

Seluruh awak telah menjadi mayat di luar angkasa ini! Sempat teringat olehku sebuah sajak dari Tuan Subagio Sastrowardoyo. Tapi, aku segera saja hanyut pada kenangan, yang membuatku makin mendapati diri ini sebagai sesuatu yang sudah pecah atau remuk. Sebuah reruntuhan!

Ah! bintang-bintang itu seperti kunang-kunang—meskipun aku bukanlah Marno yang tinggal di Manhattan. Sudah tak ada Manhattan, bukan? Kunang-kunang adalah salah satu hewan langka yang tak akan pernah bisa dilindungi manusia, ucap seorang kawan yang alisnya tebal.

Aku, kini, seperti kunang-kunang yang terbang terlalu tinggi! Lihat, di sana ada rasi Orion, dan di sebelah sana ada segitiga musim panas: Altair-Deneb-Vega. Aku pun sesaat hanyut, pada sebuah kisah cinta ketika memandang segitiga itu: Gu-Neng dan Cit-Li.

Pada sebuah ujung, bisa kulihat matahari yang serupa dengan yang ada di bumi, Nona. Betapa, senja terjadi berulang kali di luar angkasa ini! Berulang-ulang, dengan waktu yang cepat. Planet-planet itu mengingatkanku kepada perumahan dan gedung-gedung mewah yang sepi, yang tak boleh ditinggali untuk seorang sepertiku.

Ah! Kontrakanku, kini, pasti makin berdebu: buku-buku dan setumpuk kertas bekas yang bertuliskan puisi yang ditolak media. Tetanggaku sering berkata, “Untuk apa kamu merawat buku-buku?—bukankah sudah ada gawai canggih yang bisa dipakai membaca?”

Semakin hari, manusia semakin merasa memiliki, padahal semua itu hanya maya. Sama sekali tak ada, bukan? Membaca lembar-lembar dari buku-buku seperti menyentuh tubuh kekasih, dan aroma buku adalah aroma yang menyenangkan. Nona, apakah kau di bumi merasa bahagia dengan kekasihmu? Ataukah kau masih senang menunggu diriku?

Kesadaranku perlahan semakin habis rasanya. Sayup-sayup kudengar suara seorang gadis cilik yang menyanyikan lagu Bintang Kecil. Bagaimana bisa di ruang tanpa udara ini ada seorang yang menyanyi? Ah! mungkin, itu adalah halusinasi.

Tapi biarlah, tak apa, sebab aku menyukai lagu itu. Aku juga menyukai lagu lain, seperti Ambilkan Bulan Bu. Meskipun, aku tidak ingin merepotkan siapa pun untuk mengambilkannya—apalagi Ibuku.

Akan segera sampai—atau mungkin sudah sampai—suatu warta bahwa pasukan kami sudah hilang. Lenyap! Sudah menjadi bagian dari yang disebut kenangan! Anggota keluarga dari korban bersedih—dan makin sering memandangi langit serta bintang-bintang.

Sedangkan orang-orang itu, manusia yang samar disebut manusia, tentu akan segera mencari astronot-astronot baru guna menjalankan sebuah “misi suci”.

Sebab bisnis mestilah terus berjalan! Setidaknya, diriku sudah berwasiat kepada anak seorang tetangga, di samping kontrakanku itu, agar merawat buku-bukuku dan tulisan-tulisanku, andai kata diriku benar-benar tak kembali ke bumi.

Aku masih ingat! Sesudah aku berkata bahwa langit dan laut itu sama, dan hanya berbeda tingkat kebasahan dan aromanya, dengan segera kau mengajukan sebuah pertanyaan: “Jika memang begitu adanya, mengapa kau lebih ingin belajar terbang dibandingkan dengan belajar berenang?” Sampai hari ini, detik ini, masih belum bisa kujawab tanyamu itu, Nona. Sungguh.

Andaikan, nanti, seluruh manusia benar-benar meninggalkan bumi, maka aku akan memilih untuk tetap tinggal di sana. Ari-ariku tertanam di bumi, dan di sanalah diriku terjatuh pertama kali dari tempat tidur ketika bayi.

Ibu pernah bilang bahwa tempat semua itu, akan menjadi asal-muasal dan tempat kembali berpulang. Sesuatu yang tercipta dari tanah bumi mestilah kembali juga kepadanya nanti, begitulah ucap Ibu. Akankah aku kembali ke bumi setelah sejauh ini melangkah pergi? Entahlah.

Aku masih terombang ambing, dan menunggu tabung oksigenku habis!

Aku pernah bertanya padamu, Nona: Apakah manusia membutuhkan keabadian atau tidak? Lalu, dengan segera, kau berkata bahwa manusia tidak membutuhkan hal-hal semacam itu. Mendengar jawabanmu, saat itu, aku menjadi tenang. Amat tenang. Entah mengapa.

Mataku sudah terlalu lelah. Sangat lelah. Tapi, syukurlah, aku berhasil menemukan buku Ziarah-ku.  Aku pun tertidur, tanpa mengetahui kapan dan di mana diri ini akan terbangun nantinya. ***

Polanco S. Achri lahir dan tinggal di Yogyakarta. Menempuh pendidikan jurusan sastra di Universitas Negeri Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...