Norma Baru Masa Pandemi, Disiplin Tegakkan Protokol Kesehatan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Mantan Menteri Kependudukan, Prof. Dr. Haryono Suyono mengatakan, menerapkan norma baru atau budaya baru yang muncul di tengah masyarakat di masa pandemi Covid-19, merupakan perjuangan agar kita lebih sehat dan waspada terhadap wabah virus corona.

Tatanan budaya norma baru dimulai dengan interaksi antar warga di lingkungan tempat tinggal yang bergeser polanya terkontrol oleh protokol kesehatan Covid-19, dan kedisiplinan diri mentaati aturan tersebut.

Seperti halnya, disiplin memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, salaman tidak bersentuhan tangan, rajin mencuci tangan, dan lainnya.

“Ini norma baru dan harus melembaga tidak boleh kita sembrono. Jangan merasa sehat, lalu saling peluk. Itu nggak ada lagi. Jadi penerimaan norma baru itu suatu disiplin dengan budaya baru,” ujar Prof. Haryono kepada Cendana News ditemui di rumahnya di Pengadegan Barat, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Dispilin budaya baru di tengah pandemi Covid-19 ini menurutnya, sama halnya dengan slogan KB yakni ”Anak Sedikit Sehat Sejahtera”.

“Kalau dulu bisa mengubah norma baru dari banyak anak jadi sedikit anak. Nah, di masa Covid-19, kita harus disiplin protokol kesehatan yang menjadi budaya baru,” ujarnya.

Terkait norma baru ini menurutnya, telah diadakan webinar yang menyertakan 16 dokter dari 15 negara. Hasilnya, peserta webinar menilai penerapan norma baru di Indonesia sangat bagus.

“Saya kira kalau ini ditekuni dengan sungguh-sungguh, seperti di Banyuwangi ada rumah isolasi dan desa Bedoro, Sragen dengan stiker karantina mandiri, sangat sukses. Ini kan tatanan norma baru dalam pencegahan penularan Covid-19,” ujar Prof. Dr. Haryono Suyono, yang juga mantan Kepala Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Rumah isolasi menampung warga Banyuwangi yang pulang kampung halaman dari kota, harus dikarantina selama 14 hari di rumah tersebut dengan pemantauan tim medis. Semua kebutuhan warga yang dikarantina menjadi tanggungjawab pemerintah desa.

Sedangkan stiker yang ditempel di rumah warga Bedoro yang baru pulang kampung adalah sebagai penanda, dan warga itu terus dipantau selama 14 hari.

Menurutnya, inovasi desa karantina mandiri itu merupakan norma baru yang disepakati oleh masyarakat desa.

“Jadi, orang desa itu jangan dianggap bodo, jangan dianggap bahwa tidak disiplin. Karena ternyata semua orang desa yang kembali ke kampungnya itu dipaksa harus karantina mandiri. Kalau tidak mengikuti aturan itu, mereka merasa malu terhadap tetangganya,” ujarnya.

Prof. Haryono berharap program desa karantina mandiri Covid-19 menjadi kesadaran yang bersifat kemasyarakatan.
Sehingga bukan petugas klinik saja, tapi juga tim satgas Covid-19 desa dan masyarakat yang akhirnya menguasai bagaimana menempatkan keluarga-keluarga agar tetap sehat dengan pendekatan preventif bukan kuratif.

“KB itu kan perspektif mencegah anak dua saja sehingga sehat. Ini juga  kita cegah supaya tetap sehat, selalu menghindar terkontaminasi ketularan dari keluarga yang mungkin membawa virus dari tempat lainnya,” tukasnya.

Menurutnya, norma baru ini memberikan keyakinan kepada keluarga dan desa agar mereka sadar mempunyai proteksi diri karena diarahkan secara gotong royong.

“Banyuwangi dan Desa Bedoro bisa menerapkan norma baru, diharapkan daerah lain juga bisa. Jangan karena tidak ada anggaran. Dana desa kan bisa digunakan, jangan untuk korupsi. Bisa untuk beli masker, vitamin, dan lainnya,” pungkasnya.

Lihat juga...