Objek Wisata Bahari di Lamsel Tutup Akibat Cuaca Buruk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kondisi perairan Lampung yang sedang tidak bersahabat, memaksa pengelola sejumlsh objek wisata bahari menghentikan sementara operasional wisata, sementara sejumlah nelayan pun memilih berhenti melaut demi keselamatan.

Rohmat, ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Ragom Helau, pengelola objek wisata pulau Mengkudu, menghentikan aktivitas wisatawan, dan menginformasikan objek wisata pantai dan pulau tersebut tutup hingga kondisi cuaca membaik.

“Sesuai kondisi faktual di perairan, gelombang tinggi bisa mencapai 2-4 meter. Angin bertiup dari arah Timur ke Tenggara dengan kecepatan 8-30 knots. Imbasnya, pasir timbul yang biasanya bisa dilintasi dengan berjalan kaki tidak bisa diakses. Faktor keselamatan bagi wisatawan yang kerap menuju ke objek wisata pulau Mengkudu membuat ojek perahu diistirahatkan,” kata Rohmat, Sabtu (8/8/2020).

Sapardin, salah satu nelayan di Kalianda, Lampung Selatan, memilih memperbaiki perahu saat gelombang tinggi, Sabtu (8/8/2020). -Foto: Henk Widi

Menurutnya, pengelola telah melakukan pengamanan sejumlah fasilitas perahu, kano dan wahana air lainnya. Semua fasilitas ditarik ke daratan untuk mencegah kerusakan.

Kondisi gelombang tinggi perairan tersebut, menjadi kesempatan untuk pemulihan. Sebab, kondisi pasang surut air laut akan membentuk kontur alami pasir timbul di pulau Mengkudu.

“Sementara objek wisata kami tutup karena kendala cuaca, dan faktor keselamatan menjadi prioritas kami, selain pengamatan langsung kami juga memperhatikan peringatan gelombang tinggi dari BMKG maritim Lampung,” terang Rohmat.

Rohmat menyebut, penutupan sekaligus kesempatan bagi pengelola membenahi fasilitas di darat. Pembersihan area saung, fasilitas kamar mandi dan tempat bilas serta istirahat bagi pengelola. Sebab, selama liburan Iduladha, kunjungan wisatawan bisa mencapai 1.000 orang selama kurun tiga hari. Sesudahnya, kondisi cuaca gelombang tinggi menjadi waktu untuk menghentikan aktivitas wisata bahari.

Ojek perahu dari pantai Belebuk ke pulau Mengkudu sementara dihentikan operasionalnya. Sebab, sesuai peringatan gelombang tinggi dari BMKG maritim Lampung berlaku mulai Sabtu (8/8) hingga Minggu (10/10).

Kecepatan angin tinggi membuat gelombang tinggi naik ke daratan, dan membawa material sampah perairan. Sejumlah pengelola melakukan pembersihan sampah kayu, plastik yang terdampar agar pantai tetap bersih.

“Saat kondisi gelombang tinggi reda, maka akan dilakukan pembersihan, sementara material sampah masih berserakan terbawa arus laut,” paparnya.

Imbas gelombang tinggi, sebut Rohmat, juga berimbas sejumlah nelayan menepikan perahu. Di wilayah perairan Barat Lampung yang berpotensi gelombang tinggi mencapai 2,5-4 meter, membuat nelayan tidak melaut. Secara gotong royong, nelayan mengangkat perahu yang berada di tepi pantai ke daratan. Sebab, perahu yang tidak dibawa ke daratan berpotensi akan terhempas gelombang tinggi.

“Nelayan memilih menepikan perahu, karena gelombang pasang bisa lebih tinggi saat sore hingga malam hari,” papar Rohmat.

Sapardin, salah satu nelayan yang tidak melaut akibat gelombang tinggi, memilih memperbaiki alat tangkap. Nelayan di pantai Kalianda itu mengaku potensi gelombang tinggi bisa terjadi hingga tiga hari ke depan. Sejumlah objek wisata bahari way Panas, pantai Maja, pantai Kedu dan Batu Rame di Kalianda sementara tidak boleh untuk berenang.

“Nelayan saat ini tidak berani melaut, sehingga wisatawan sebaiknya tidak mengambil risiko dengan beraktivitas di tepi pantai,” paparnya.

Rupiani, salah satu pelaku usaha kuliner di pantai Wat Wat Gawoh, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, mengaku wisatawan enggan berhenti di pantai tersebut. Sebab, belasan saung yang ada tepat di tepi pantai diterjang gelombang tinggi. Percikan air bisa setinggi tiga meter dan berimbas air laut naik ke daratan.

“Terlalu bahaya untuk berenang, bahkan duduk di tepi saung dihindari karena terjangan gelombang,” cetusnya.

Gelombang tinggi, menurut Rupiani sebelumnya terjadi dua bulan silam. Gelombang tingggi tersebut berimbas kerusakan sejumlah fasilitas di tepi pantai. Wanita yang berjualan kuliner sate ayam, mi ayam bakso di seberang jalan itu mengaku tetap membuka usahanya, meski tetap was was.

Lihat juga...