Pandemi Covid-19 Pengaruhi Usaha Antar-Jemput Siswa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sejumlah sekolah di Lampung Selatan belum beroperasi normal. Imbasnya sejumlah kendaraan usaha antar jemput siswa sekolah atau abodemen sepi order.

Susilo, salah satu pengemudi abodemen menyebut sejak tiga bulan terakhir tidak beroperasi. Sebab siswa belum melakukan belajar tatap muka.

Sistem belajar dalam jaringan (daring) memanfaatkan android menurutnya membuat siswa tidak bersekolah. Normalnya sejak pukul 06.00 ia sudah menjemput siswa SD hingga SMP yang bersekolah di lembaga pendidikan Maarif. Antar jemput siswa tersebut dibayar dengan sistem bulanan. Semenjak tidak ada antar jemput kendaraan berhenti beroperasi.

Imbas tidak beroperasinya kendaraan abodemen yang dikemudikan Susilo memastikan penghasilan menurun. Sebagai kendaraan abodemen menurutnya membuat ia tidak bisa mengangkut penumpang umum. Mendapat penghasilan rata rata Rp500 ribu per bulan dari antar jemput siswa kini ia harus menganggur.

“Sekarang sementara beralih antar jemput pedagang di pasar dengan memakai kendaraan bak terbuka untuk mengangkut barang dagangan, kalau sekolah kembali beroperasi kendaraan abodemen akan kembali aktif,” terang Susilo saat ditemui Cendana News, Kamis (6/8/2020).

Kendaraan abodemen menurut Susilo sangat penting bagi siswa sekolah di wilayah Bandar Agung. Sebab akses jalan di atas tanggul tambak kerap sulit dilintasi terutama saat musim hujan. Sejumlah siswa yang tetap akan melakukan aktivitas di sekolah untuk mengumpulkan tugas memilih diantar orangtua memakai motor.

Pengemudi kendaraan abodemen siswa sekolah bernama Lukman menyebut tiga bulan tidak mengantar siswa sekolah. Sistem pelajaran jarak jauh membuat siswa SD hingga SMA tidak melakukan kegiatan di sekolah.

Imbas pandemi Covid-19 ia bahkan hanya mengangkut penumpang umum. Trayek Kalianda-Penengahan-Pelabuhan Bakauheni membuat usahanya tetap berjalan.

“Kendaraan angkutan pedesaan untuk abodemen juga memiliki trayek umum sehingga masih tetap operasi,” paparnya.

Mendapat penumpang siswa sekolah yang membayar abodemen secara langganan membuat penghasilannya berkurang. Lukman menyebut setiap siswa membayar Rp100 ribu setiap bulan untuk trayek Penengahan hingga Kalianda. Belum adanya keputusan melakukan kegiatan belajar mengajar hingga akhir September membuat ia tidak mengangkut siswa sekolah.

Sistem zonasi sekolah yang diterapkan sejak dua tahun terakhir juga berdampak bagi usahanya. Sebab siswa tidak bisa memilih untuk bersekolah di luar kecamatan. Jalur zonasi berimbas hanya sekolah terdekat yang bisa dipilih sementara sekolah favorit hanya memakai jalur prestasi. Imbasnya siswa pengguna jasa abodemen berkurang.

“Sebelumnya siswa pengguna abodemen bisa mencapai puluhan kini berkurang drastis mempengaruhi penghasilan,” cetusnya.

Sistem belajar tatap muka yang belum diperbolehkan diakui Drs. Supangat. Kepala bidang Kurikulum SMPN 1 Penengahan itu menyebut sesuai instruksi bupati Lamsel 29 Juli 2020 lalu kegiatan belajar daring akan dilakukan hingga akhir September.

Sejumlah siswa SDN 3 Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan melakukan kegiatan belajar, beberapa waktu lalu – Foto: Henk Widi

Solusi pembelajaran luar jaringan (luring) juga telah diterapkan. Cara yang ditempuh diantaranya dengan mengirimkan tugas kepada siswa.

“Tugas akan dikerjakan sesuai dengan mata pelajaran lalu siswa akan mengumpulkan ke ketua kelas,” cetusnya.

Hanya ketua kelas yang telah mengumpulkan tugas siswa ke sekolah. Sejumlah guru kelas menurutnya tetap berangkat ke sekolah untuk melakukan pemberian tugas dan memberi penilaian pada tugas siswa. Meski sempat melakukan KBM dengan menerapkan protokol kesehatan kegiatan tatap muka belum diperbolehkan.

Sistem zonasi saat tahun ajaran baru 2020-2021 disebut Supangat cukup membantu orangtua. Sebab saat siswa akan mengantar tugas bisa diantar oleh orangtua.

Sementara tanpa zonasi siswa yang bersekolah di wilayah lain dengan kendaraan abodemen belum beroperasi akan kesulitan.

Metode pembelajaran daring dengan internet menurutnya dikurangi imbas sejumlah orangtua mengeluhkan kebutuhan kuota dan tidak memiliki fasilitas smartphone.

Lihat juga...