Pasar Pupuk Organik di Indonesia Masih Terbuka Lebar

JAKARTA – Potensi pasar pupuk organik di Indonesia masih terbuka lebar, sehingga para penyuluh dan petani diajak untuk memanfaatkan peluang tersebut sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi,  mengatakan pihaknya berupaya mengoptimalkan pemanfaatan peluang tersebut kepada para penyuluh pertanian.

“Kami mengajak para penyuluh yang menjadi peserta Training of Trainer (ToT) Climate Smart Agriculture (CSA) Strategic Irrigation Modernization And Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) di Jawa Tengah, agar mereka mendapatkan materi praktik pembuatan pupuk organik,” kata Dedi, Jumat (7/8/2020).

Dedi berharap, para penyuluh di Jawa Tengah yang mengikuti kegiatan ToT CSA SIMURP bisa menyerap ilmu serta mengimplemantasikannya di lapangan.

ToT CSA SIMURP di Jawa Tengah diikuti 40 peserta terdiri dari penyuluh pendamping kegiatan di tiga Kabupaten Pubalingga 2 BPP, Banjarnegara 2 BPP, dan Purworejo 4 BPP.

Menurut Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan, Leli Nuryati, dalam kegiatan ini penyuluh diajarkan cara membuat pupuk organik dan aplikasinya di lapangan.

“Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian, baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan,” tuturnya.

Leli menambahkan, pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah).

Salah seorang Fasilitator TOT, Herta, yang juga Penyuluh Senior dari Kabupaten Banjarnegara, mengatakan, pupuk organik bukan sebagai pengganti pupuk anorganik.

“Pupuk organik lebih sebagai komplementer. Pupuk organik dapat mensuplai sebagian hara tanaman. Dengan demikian, pupuk organik harus digunakan secara terpadu dengan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Karena itu, penggunaan pupuk kimia buatan yang tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas biologi tanah,” katanya.

Menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, proyek SIMURP memberikan banyak manfaat buat petani dan penyuluh termasuk di dalamnya terkait pupuk organik.

“SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani. Khususnya bagaimana melakukan pertanian pintar, dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk cara pemupukan dengan penggunaan pupuk organik,” tuturnya. (Ant)

Lihat juga...