PAUD Karya Ilahi Mulai Ajar Anak Berkebutuhan Khusus

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Setelah pemberlakukan era new normal atau kenormalan baru, sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Karya Ilahi yang melayani anak berkebutuhan khusus mulai melakukan pembelajaran tatap muka.

Pendiri sekaligus Kepala Sekolah PAUD Karya Ilahi di Kelurahan Waioti, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Ursula Maria saat ditemui di sekolahnya, Kamis (6/8/2020). Foto : Ebed de Rosary

Pembelajaran sudah dilaksanakan mengingat anak-anak berkebutuhan khusus tidak bisa belajar secara online. Pembelajaran tetap berjalan sesuai standar Covid-19 yang selama ini sebagian besar sudah diterapkan.

“Selama ini kami belajar secara tatap muka, namun satu guru mengajar satu anak murid saja,” kata pendiri sekaligus Kepala Sekolah PAUD Karya Ilahi di Kelurahan Waioti, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Kamis (6/8/2020).

Ursula mengatakan, sekolahnya memiliki 8 tenaga pengajar, seorang pegawai tata usaha dan petugas kebersihan dimana satu orang guru mengajar satu anak selama 2 jam sehingga lebih fokus.

Sebanyak 30 anak didik usia 2 hingga 13 tahun sedang menempuh pendidikan di sekolah ini sebutnya, meskipun dari usia ada yang seharusnya sudah duduk di bangku Sekolah Manengah Pertama (SMP).

“Kami mulai melakukan kegiatan belajar di sekolah dan mengajarkan anak-anak untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah belajar. Kalau memakai masker sulit sekali meskipun sudah dicoba berulang kali,” ungkapnya.

Ursula menyebutkan, satu ruang kelas disekat menjadi dua sehingga hanya dipergunakan untuk mengajar satu anak didik saja sebab dalam sehari semua anak didik dilayani meskipun hanya terbatas jam mengajarnya.

Anak-anak juga rindu ke sekolah dan mendesak orang tua agar bisa ke sekolah meskipun menurut dia, ada yang hanya bermain saja saat awal masuk sekolah namun perlahan mulai mau belajar lagi.

“Sekolah kami beda dengan sekolah umum sehingga kadang orang luar tidak mengira di sekolah kami sedang ada aktifitas belajar mengajar. Muridnya terbatas dan tidak semua anak belajar dalam waktu yang sama tetapi sejak awal dibagi dua jam sehari,” ujarnya.

Salah seorang guru di PAUD Karya Ilahi Maria Sika Susanti mengaku tidak mudah mengajar anak berkebutuhan khusus karena harus sabar dan perlu ada perubahan metode mengajar agar anak-anak bisa cepat memahami pelajaran.

Pihaknya pun selalu melakukan evaluasi kata Maria, karena setiap anak murid berbeda dalam penanganannya sehingga perlu ada terobosan dan kreatifitas dari guru dalam mendidik anak berkebutuhan khusus.

“Kalau kita tidak sabar dan menahan emosi maka tidak bertahan lama. Mendidik anak berkebutuhan khusus sangat jauh berbeda dengan anak normal dan kami juga tidak ada libur semester kecuali tanggal merah dan hari minggu,” ungkapnya.

Maria mengakui selama liburan Covid-19 anak-anak didik merasa jenuh dan ada yang mengalami kemunduran sehingga saat mulai belajar secara normal pihaknya harus mengulang lagi pelajaran untuk memacu daya ingat kembali.

“Kadang kami juga harus memakai pakaian yang sama sehingga mereka mengenal kami. Ada anak didik yang tidak mau diajari karena kami mengenakan pakaian berwarna lain. Inilah sulitnya mendidik anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya.

Lihat juga...