Pedagang di Lamsel Gunakan Aplikasi ‘Online’ Dongkrak Penjualan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Perkembangan teknologi komunikasi dimanfaatkan pelaku usaha untuk menjangkau banyak pelanggan. Ahmad Fauzan, salah satu pedagang nasi uduk di Desa-Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, memanfaatkan aplikasi WhatsApp. Sebelumnya, lima tahun lalu, ia masih memanfaatkan short message service (SMS) dan telepon. 

Ahmad Fauzan memanfaatkan motor yang dimodifikasi dengan kotak menjadi tempat membawa nasi uduk yang dikemas. Ia tetap menjalankan usahanya dengan cara keliling melayani kebutuhan pekerja informal di pelabuhan. Dikenal dengan produk nasi uduk Pak Aceng, ia juga melayani sejumlah pesanan kuliner nasi bungkus berbagai lauk.

Setiap pelanggan yang telah memiliki nomor teleponnya akan memesan nasi uduk, teh manis hingga kopi. Sarana komunikasi memudahkannya menjangkau pelanggan hingga maksimal sejauh satu kilometer. Meski menjalankan usaha dengan keliling, Ahmad Fauzan bisa mendapat omzet ratusan ribu rupiah per hari.

Lestari (kanan), pedagang kuliner sayuran matang dan berbagai jenis lauk berjualan keliling dan memaksimalkan aplikasi WhatsApp, Selasa (25/8/2020). -Foto: Henk Widi

“Saya juga bekerja sama dengan sejumlah warung makan, jika ada pelanggan menginginkan menu tertentu bisa saya antar, belum adanya aplikasi pengantaran online masih memberi peluang bagi usaha yang saya tekuni,” terang Ahmad Fauzan, saat ditemui Cendana News, Selasa (25/8/2020).

Ahmad Fauzan berjualan keliling saat pagi menjual nasi uduk. Menjelang siang, ia akan menerima pesanan nasi bungkus berbagai lauk. Sumini, sang kakak, telah menyediakan beragam menu kuliner yang kerap dipesan melalui telepon. Pemesan dominan sejumlah pekerja pelabuhan seperti tukang tambat tali kapal, petugas kebersihan, pengurus truk dan tukang ojek.

Menggunakan aplikasi WhatsApp, menurutnya sekaligus menjadi cara berpromosi. Sebab, selain sebagai pedagang keliling, ia juga menyediakan jasa pengiriman (delivery). Melalui promo dengan WA, ia bisa menjangkau banyak pelanggan. Jasa pengiriman menurutnya akan diperoleh dari pemilik warung untuk mengantarkan pesanan makanan kepada pelanggan.

“Memaksimalkan aplikasi WA, berguna untuk meningkatkan omzet penjualan sekaligus menambah jejaring konsumen,” cetusnya.

Pedagang keliling lain, Lestari, memanfaatkan aplikasi WhatsApp untuk menawarkan produk kulinernya. Ia menjual pempek, risoles, bakwan, pepes ikan, kerupuk, berbagai jenis sayuran matang dan lauk. Ia juga membuat keripik pisang, singkong, otak otak serta berbagai jenis makanan ringan.

“Saya unggah di status facebook, Instagram dan WhatsApp yang sekaligus menjadi media promosi, hasilnya banyak pelanggan membeli produk kuliner,” terang Lestari.

Pemanfaatan aplikasi WhatsApp memungkinkannya memiliki pelanggan hingga ke desa lain. Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan itu bisa memaksimalkan penjualan dari pemesanan online. Setiap ibu rumah tangga yang membutuhkan kue, ia akan ditelepon. Memaksimalkan aplikasi, usahanya makin dikenal berimbas omzet penjualan meningkat.

Dalam sehari, Lestari bisa mendapat omzet Rp300ribu hingga Rp450ribu. Sebab selain berjualan keliling langsung ke konsumen, ia memasok berbagai jenis kue ke warung. Penjualan kue ke sejumlah warung ikut mendongkrak jumlah penjualan dan omzet harian. Dari omzet yang diperoleh, ia bisa menambah modal, sebagian dipakai untuk membayar setoran motor sebagai sarana berjualan keliling.

Lihat juga...