Pegiat Literasi Lamsel Sambangi Anak di Pulau Terpencil

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kepedulian pada pendidikan anak-anak di pulau terpencil, terus ditunjukkan oleh para pegiat literasi, salah satunya dengan menggelar sebuah program literasi.

Ardy Yanto, pegiat literasi motor perahu pustaka, misalnya, menggelar program komunitas literasi sambang nusa yang menyasar pulau Sebesi, salah satu pulau di dekat Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berpenghuni.

Membawa semangat HUT ke-75 kemerdekaan RI, Ardy Yanto mengajak anak-anak di pulau terpencil mencintai buku. Keterbatasan akses transportasi, tidak menghalangi pegiat literasi berbagi. Perjalanan dari pulau Sumatra ke pulau Sebesi masih memakai fasilitas perahu. Berangkat dari dermaga Canti, perjalanan ditempuh dalam waktu satu jam.

Kehadiran perpustakaan keliling di pulau Sebesi membuat anak-anak bisa membaca berbagai jenis buku bacaan bergambar, Kamis (27/8/2020). -Foto: Henk Widi

Ratusan buku didominasi buku bacaan bergambar selalu disiapkan pada rombong kain miliknya. Ia mengaku tidak sendiri, karena didampingi sejumlah pegiat literasi, di antaranya Musholin, pegiat literasi Berkaki asal Jakarta, Arinal Compok Literasi Madura, Dikin rumah baca Tunas Cipta dan Harianto, Bhabinkamtimas pustaka asal Tulang Bawang Barat.

“Dalam semangat kemerdekaan, kami melakukan sambang nusa untuk mengedukasi anak-anak pulau, akan pentingnya membaca buku sekaligus sosialisasi pencegahan Covid-19 bagi anak-anak usia TK hingga SMA di pulau terpencil,” terang Ardy Yanto, Kamis (27/8/2020).

Berbagai buku bacaan bergambar anak-anak, majalah, buku pertanian, perikanan, buku pelajaran dibawa memakai motor perpustakaan keliling. Edukasi dan sosialisasi pencegahan Covid-19 dilakukan dengan kegiatan cuci tangan dengan sabun, pakai masker dan jaga jarak.

Pegiat literasi juga mengedukasi anak-anak di pulau Sebesi pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Sebagai salah satu pulau yang kerap menjadi destinasi wisata, Ardy Yanto dan sejumlah pegiat literasi lain juga mengedukasi anak-anak cara menyambut tamu. Keceriaan dan keramahan anak-anak dan warga pulau Sebesi menjadi kunci kunjungan wisatawan ke pulau tersebut.

“Kearifan lokal anak-anak yang selalu ramah kepada para wisatawan menjadi nilai positif yang terus ditanamkan, sebagai bagian dari sapta pesona wisata,” beber Ardy Yanto.

Ardy Yanto yang merupakan pegiat perpustakaan keliling memakai motor, mengaku kerap mengunjungi pulau tersebut. Namun selama masa pandemi Covid-19, pada Agustus ini pertama kalinya ia mengunjungi anak-anak dengan membawa buku bacaan. Donasi berbagai jenis buku bacaan dibawa oleh pegiat literasi dari berbagai daerah untuk menambah koleksi buku bacaan

Akses buku bacaan bagi anak-anak di pulau Sebesi, menurutnya selama ini masih terbatas di sekolah. Keterbatasan jaringan seluler dan internet juga menjadi kendala bagi anak-anak selama masa pandemi Covid-19. Meski berada di zona hijau, anak anak di pulau tersebut tetap harus menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Selain mengedukasi anak-anak meningkatkan budaya baca, kami juga membagikan hand sanitizer dan mainan edukasi,” cetusnya.

Dikin, salah satu pegiat literasi Rumah Baca Tunas Cipta, menyebut anak-anak di pulau Sebesi memiliki semangat belajar yang tinggi. Dalam keterbatasan tinggal di pulau terpencil, anak-anak membutuhkan berbagai jenis buku bacaan. Kehadiran pegiat literasi membawa berbagai jenis buku bacaan menjadi cara untuk menambah wawasan.

Ia dan sejumlah pegiat literasi lain menyebut, kegiatan sambang nusa akan rutin dilalukan. Akses buku bacaan yang masih terbatas bagi anak-anak di pulau menjadi tugas bagi kegiatan pustaka bergerak. Kebutuhan buku bacaan untuk warga di pulau terpencil, terutama anak usia sekolah masih sangat tinggi. Berbagai buku bacaan tersebut merupakan hasil donasi dari berbagai pihak yang peduli pendidikan di pulau terpencil.

Lihat juga...