Pembelajaran Tatap Muka di Banyumas Masih Terkendala Perilaku Siswa

Editor: Makmun Hidayat

BANYUMAS — Bupati Banyumas, Achmad Husein menyebutkan, sejauh ini infrastruktur pembelajaran tatap muka, banyak sekolah yang sudah siap. Namun yang masih menjadi kendala adalah perilaku siswa yang dikhawatirkan belum bisa secara tertib untuk menjaga jarak.

“Untuk pembukaan sekolah tatap muka, banyak sekali pertimbangan yang harus dikaji. Secara infrastruktur, sarana serta fasilitas kesehatan seperti tempat cuci tangan dan sebagainya mungkin sudah siap, namun justru perilaku anak-anak yang masih harus dipertimbangkan. Karena mereka pasti akan sulit untuk menjaga jarak dengan temannya,” kata Bupati saat melihat kesiapan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pliken 2, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Selasa (25/8/2020).

Bupati Banyumas, Achmad Husein di halaman Balai Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Selasa (25/8/2020). -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Bupati menjelaskan, selain rutin dilakukan penyemprotan disinfektan, pertimbangan lain untuk pembukaan sekolah tatap muka adalah angka positivity rate. Dimana untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka, minimal positivity rate di bawah 1 persen dan berlangsung selama minimal 10 hari. Sedangkan Kabupaten Banyumas sendiri, sampai saat ini positivity rate Covid-19 masih di atas 1 persen.

“Selain positivity rate masih di atas 1 persen, masyarakat kita juga belum bisa tertib dalam menjaga jarak. Orang dewasa saja seringkali lupa, apalagi anak-anak, ini saya lihat langsung masih banyak yang tidak jaga jarak,” kata Bupati.

Sementara itu, Kepala SD N 2 Pliken, Kecamatan Kembaran, Prasetijarini mengatakan, sekolahnya sudah melakukan penyemprotan disinfektan sebagai persiapan pembelajaran tatap muka. Pihak sekolah juga menyediakan hand satizer, thermogan untuk mengukur suhu tubuh, sarung tangan serta face shield untuk para siswa. Sehingga secara sarana dan infrastruktur sudah lengkap.

Untuk metode pembelajaran tatap muka, juga sudah disiapkan skenario pembelajaran dengan jumlah siswa yang dibatasi. Tiap kelas akan dibagi menjadi dua shift jam belajar, yaitu yang masuk pagi pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB dan selanjutnya, shift siswa yang masuk pukul 10.00 WIB hingga pukul12.00 WIB.

“Untuk bangku di kelas ditata dengan menjaga jarak dan siswa juga diwajibkan untuk membawa alas meja atau taplak sendiri-sendiri. Setelah shift pembelajaran pagi selesai, meja dan kursi akan disemprot disinfektan terlebih dahulu sebelum digunakan oleh siswa shift pembelajaran selanjutya,” terang kepala sekolah.

Pihak sekolah sudah mengajukan untuk pembelajaran tatap muka ke Dinas Pendidikan dan Tim Gugus Tugas, namun kepala sekolah mengaku, ia mengembalikan sepenuhnya keputusan kepada pihak yang berwenang. Sebab, secara teori memang sudah siap, namun praktik di lapangan terkadang ada hal-hal yang diluar perkiraan.

“Kita ikut aturan saja, jika memang belum diizinkan, maka pembelajaran tetap secara daring, karena pasti tim gugus tugas pencegahan Covid-19 punya banyak pertimbangan sebelum memutuskan diperbolehkan atau tidak pembelajaran tatap muka,” tuturnya.

Hanya saja, pembelajaran daring cukup memberatkan orang tua siswa yang sebagian besar merupakan buruh pekerja pembuatan tempe di Desa Pliken. Sebab, mereka harus mendampingi anaknya dalam belajar, sehingga wali murid banyak tersita waktunya dan hal tersebut berpengaruh terhadap penghasilan mereka.

Lihat juga...