Pemberdayaan Ekonomi Umat di Masjid Harus Ditingkatkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Papua Barat, Dr. Hamzah, M. Ag mengatakan, dalam pengembangan ekonomi Islam atau ekonomi syariah ada beberapa aspek yang kurang disentuh, salah satunya pemberdayaan ekonomi umat di masjid-masjid harus lebih ditingkatkan.

“Padahal hampir semua masjid dibangun di tanah wakaf. Tentu akan lebih makmur apabila pemberdayaan ekonomi umat di sekitar masjid itu dibangkitkan, umat akan lebih sejahtera,” ujar Hasan pada diskusi webinar bertajuk ‘Tafsir Pemberdayaan Ekonomi Umat’, di Jakarta, Senin (31/8/2020).

Selain itu, tambah dia, zakat harus diimplementasikan dengan lebih beragam, bukan hanya dengan uang, tetapi bisa juga dengan misalnya hasil pertanian.

“Itu menjadi salah satu tindakan dalam ekonomi syariah untuk memberdayakan umat,” ujarnya.

Prinsip ekonomi syariah menurutnya, harus terus dikembangkan dalam kehidupan umat. Karena sangatlah jelas sistem ekonomi ini mengedepankan ukhuwah, menolak riba dan ketidakadilan.

Namun ekonomi syariah juga memiliki konsep khiyar ikhiyari, yakni kata dia, di mana umat dapat menentukan pilihan, misalnya hendak membatalkan sebuah transaksi.

Lebih lanjut disampaikan, dalam Alqur’an, surah QS. Al-Baqarah terdapat tiga konsep penting tentang pribadi muslim dalam kaitannya dengan ekonomi.

Pertama, yaitu yu’minuna sebagai pilar keimanan. Kedua, as-shalah sebagai prinsip spiritual, dan ketiga, yunfiqun yang menjadi dasar masyarakat muslim harus mendistribusikan hartanya.

Menurutnya, ketiga pilar tersebut perlu menjadi perhatian dan kesadaran umat Islam dalam hal peningkatan ekonomi umat.

“Alquran memiliki konsep yang amat mengagumkan soal perekonomian. Tidak hanya menjadi orang yang beriman dan menjalankan ibadah keagamaan seperti salat, akan tetapi juga harus disinergikan dengan kegiatan mendistribusikan harta,” pungkasnya.

Lihat juga...