Penahanan 11 Mantan Anggota DPRD Sumut Diperpanjang KPK

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri – Foto Ant

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang penahanan 11 mantan anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut), yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap terkait fungsi dan kewenangan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dan 2014-2019.

“Hari ini, penyidik KPK lakukan perpanjangan penahanan selama 40 hari, dimulai 10 Agustus 2020 sampai dengan 19 September 2020 untuk 11 tersangka,” kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri di Jakarta, Senin (10/8/2020).

Perpanjangan penahanan terhadap 11 tersangka dilakukan karena penyidik masih memerlukan waktu, untuk menyelesaikan berkas perkara. Sebelumnya, ke-11 tersangka tersebut telah ditahan KPK sejak Rabu (22/7/020). Mereka adalah, Sudirman Halawa (SH), Ramli (R), Syamsul Hilal (SHI), Irwansyah Damanik (ID), Megalia Agustina (MA), dan Ida Budiningsih (IB), yang ditahan di Rutan Cabang KPK pada Gedung Merah Putih KPK

Selanjutnya Robert Nainggolan (RN), Layani Sinukaban (LS), Japorman Saragih (JS), Jamaluddin Hasibuan (JH), dan Rahmad Pardamean Hasibuan (RPH), yang ditahan di Rutan Cabang KPK di Rutan Pomdam Jaya Guntur.

Untuk diketahui pada Kamis (30/1/2020), KPK telah mengumumkan 14 mantan anggota DPRD Sumut sebagai tersangka. Dua tersangka lainnya, yakni Ahmad Hosein Hutagalung (AHH) dan Mulyani (M) telah ditahan sejak Selasa (28/7/2020). Untuk satu tersangka lain, Nurhasanah (N), KPK menerima informasi bahwa setelah yang bersangkutan mengikuti rapid test didapatkan hasil reaktif, sehingga KPK menjadwalkan ulang pemanggilan yang waktunya akan diinformasikan lebih lanjut.

Ke-14 orang tersebut diduga menerima hadiah atau janji dari mantan Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho. Pertama, terkait persetujuan laporan pertanggungjawaban Pemprov Sumut Tahun Anggaran 2012 sampai dengan 2014 oleh DPRD Provinsi Sumut. Kedua, persetujuan perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2013 dan 2014 oleh DPRD Provinsi Sumut. Ketiga, pengesahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2014 dan 2015 oleh DPRD Provinsi Sumut.

Keempat, penolakan penggunaan hak interpelasi oleh DPRD Provinsi Sumut tahun 2015. Atas perbuatannya, 14 orang itu disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang No.31/1999, tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 64 ayat (1) dan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Ant)

Lihat juga...