Pendapatan Bus Trans Semarang, Turun

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Pandemi Covid-19 berimbas di seluruh aspek, termasuk bagi Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang. Penurunan jumlah penumpang akibat Covid, membuat pendapatan Badan Layanan Umum (BLU) milik Pemkot Semarang, tersebut menurun.

“Pandemi Covid-19 membuat jumlah penumpang Trans Semarang menurun tajam. Meski saat ini sudah mulai meningkat, namun jumlahnya juga masih dibatasi. Tidak bisa maksimal sesuai kapasitas armada, hanya 50 persen, sesuai aturan social distancing dalam pencegahan Covid-19,” papar Plt Kepala BLU Trans Semarang, Hendrix Setyawan, di Semarang, Jumat (7/8/2020).

Plt Kepala BLU Trans Semarang, Hendrix Setyawan, saat ditemui di Semarang, Jumat (7/8/2020). -Foto: Arixc Ardana

Dirinya mencontohkan, untuk armada besar dengan kapasitas 80 penumpang, pada masa pandemi Covid-19 hanya dapat diisi 40-50 penumpang. Demikian juga dengan armada kecil berkapasitas 40 penumpang, dibatasi hanya bisa mengangkut 20-22 penumpang di saat bersamaan.

“Apalagi, di awal-awal pandemi Covid-19 mulai menyebar. Penumpang kita turun hingga 80 persen. Hal ini tentu saja berimbas pada pendapatan usaha, sehingga target sebesar Rp33 miliar pada 2020 ini, turun menjadi Rp19 miliar,” lanjutnya.

Pihaknya optimis, bisa mencapai target yang telah disesuaikan. Tercatat, saat ini pendapatan rata-rata per bulan Trans Semarang, sebesar Rp1,2 miliar hingga Rp1,4 miliar.

Di satu sisi, meski pendapatan menurun, pihaknya menegaskan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) dalam operasional Trans Semarang. Misalnya, pembatasan tempat duduk penumpang, penggunaan masker dan penyediaan hand sanitizer.

“Guna meminimalkan biaya operasional, kita pun menyiasati dengan mengurangi ritase atau perjalanan armada. Sementara untuk jam operasional tidak berubah,” tadasnya.

Terpisah, pengamat transportasi Unika, Soegijapranata Djoko Setijowarno, menilai turunnya pendapatan sektor transportasi dalam masa pandemi Covid-19, merupakan hal yang wajar.

Hal tersebut seiring dengan kegiatan masyarakat yang belum kembali normal, hingga pemberlakuan protokol kesehatan, termasuk pengurangan kapasitas tempat duduk.

“Keberadaan Trans Semarang untuk melayani publik, di masa pandemi ini perlu didukung dengan pemberian subsidi operasional. Apalagi, tarifnya juga murah,” tandasnya.

Lihat juga...