Pengamat: Ekonomi Indonesia yang Minus Berdampak pada Multi Krisis

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Direktur Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, ditemui pada diskusi ekonomi di Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Pengamat Ekonomi, Salamuddin Daeng mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus berdampak pada multi krisis dan dipastikan berakhir kolep.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Rabu (5/7/2020) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi atau minus 5,32 persen.

“Pertumbuhan ekonomi yang negatif ini, adalah yang pertama kali terjadi sejak tahun 1998, yakni ketika Indonesia mengalami krisis moneter atau krisis finansial Asia,” sebut Salamuddin saat dihubungi, Kamis (6/7/2020).

Dia menilai krisis tahun 2020 ini didasari oleh beberapa sektor yang terdampak secara bersamaan, yakni antara keuangan, perdagangan dan alam terjadinya wabah pandemi Covid-19.

“Jadi sangat komplek. Jadi krisis tahun ini tentu bisa lebih dalam dari 1998 karena skalanya lebih luas dan dampaknya juga lebih dahsyat,” ungkap Salamuddin Daeng yang menjabat Direktur Asoasiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI).

Sehingga dampaknya tambah dia, ada akibat dan konsekunsi yang harus ditanggung.

“Level terakhir ya kolep. Berarti sudah berhenti total, BUMN nggak bisa bayar utang, perdagangan dan ekspor bangkrut, industri pabrik tutup dan lainnya,” tukasnya.

Mencermati krisis ini, penguasa diminta membuang ambisi dan nafsu keserakahan.

“Ya maksudnya, kalau kemarin terlalu tinggi target-targetnya, ya nggak usah lagi pasang target besar. Menyadari kalau tidak punya persiapan menghadapi kondisi seperti ini baik itu secara regulasi,” ujarnya.

Karena sebetulnya menurut Salamuddin, kondisi ini dari semula sudah bisa dibaca yakni ketika pelemahaan ekonomi global mulai terjadi sejak 2009.

Seperti diketahui pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 mencapai 5,08 persen. Namun perekonomian mengalami kontraksi dalam sehingga tumbuh jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I yang mencapai 2,97 persen.

Lihat juga...