Pengasong di Gilimanuk Bertahan di Tengah Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

JEMBRANA — Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi beberapa bulan belakangan berdampak terhadap para pengasong jasa angkutan laut kapal Ferry. Pasalnya, penumpang jasa angkutan umum ini cenderung menurun drastis jika dibandingkan sebelumnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Joko, salah satu pengasong di kapal Ferry yang menghubungkan Pulau Bali. Dia mengatakan, omzet penjualan barang dagangannya menurun bahkan mencapai hampir 90 persen.

Ada beberapa faktor, beber Joko. Pertama, karena tidak banyak orang yang semenjak pandemi ini berpergian ke Bali untuk liburan. Kedua, diperkirakan semenjak adanya peraturan dari pemerintah yang mewajibkan para pengguna jasa angkutan laut kapal Ferry diwajibkan mengikuti protokol kesehatan salah satunya wajib membawa surat hasil rapid test. 

“Mungkin masyarakat malas untuk bepergian khususnya ke Pulau Bali dengan menggunakan kapal Ferry ini,” ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Gilimanuk Jembrana, Selasa (18/8/2020).

Faktor ketiga, imbuhnya, yaitu berkurangnya kendaraan ekspedisi yang akan menuju dan dari ke Bali.

Menurutnya jika sebelumnya sehari dia mendapatkan omzet Rp200 hingga Rp300 dalam sehari, namun saat ini hanya Rp50 yang ia bawa pulang ke rumah. Dia yang sehari-hari menjadi pengasong beberapa jenis minuman air mineral serta kopi ini berharap pandemi ini bisa segera berlalu agar perekonomian kembali seperti semula.

Hal senada juga disampaikan Ratna, salah seorang penjual nasi di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali. Dia mengakui, selama ini memilih bertahan sebagai pedagang di Gilimanuk selama pandemi karena tidak ada pilihan lain.

“Karena penghasilan utama kami dari penjualan di sini. Oleh sebab itu kami tetap bertahan meskipun penghasilan tidak sebesar hari-hari sebelum pandemi,” katanya.

Lihat juga...