Pengembangan Kebermanfaatan Teknologi Nuklir, Turunkan Resistensi Masyarakat

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Keberadaan nuklir di masyarakat Indonesia, sebenarnya sudah berlaku lama. Hanya konotasi kata nuklir masih saja menimbulkan stigma negatif. Untuk mengatasi hal ini, satu-satunya yang perlu dilakukan adalah dengan terus mengembangkan aplikasi berbasis teknologi nuklir yang bermanfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peneliti Utama Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Djarot S Wisnubroto menyatakan meyakinkan masyarakat tentang nuklir memang tidak mudah.

Peneliti Utama Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) Djarot S Wisnubroto saat dihubungi, Jumat (14/8/2020. – Foto Ranny Supusepa

“Masyarakat itu sebenarnya pragmatis. Yang penting listrik ada, jarang ada pemadaman, dan sedapat mungkin murah. Uniknya adalah, ketika ditanya apakah nuklir itu mempunyai dampak negatif? Sebagian besar menjawab ya,” kata Djarot saat dihubungi, Jumat (14/8/2020).

Ia menyatakan bahwa masyarakat umumnya mengikuti apa yang menjadi kebijakan pemerintah.

“Kalau melihat survei selama ini, bahkan Survei di Kalimantan Barat yang terakhir dilakukan pada tahun 2019, pro nuklirnya hampir 90 persen. Jadi memang tinggal pemerintah saja yang bersikap,” ujarnya.

Terkait dengan upaya untuk bertemu dengan pihak Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral dan Dewan Energi Nasional, Djarot menyatakan bahwa upaya tersebut bisa dilakukan.

“Mungkin oleh sebagian pihak, nuklir dipersepsikan sebagai kompetitor fosil. Sehingga nuklir sulit masuk di ESDM. Kuncinya padahal ada di ESDM. Sehingga kalau ada peluang, untuk meyakinkan pihak terkait untuk pemanfaatan nuklir ya akan dimanfaatkan kesempatan tersebut,” tandasnya.

Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro menyatakan dirinya mendorong peningkatan inovasi dan tata kelola dalam bidang riset. Termasuk untuk teknologi nuklir.

“Saya ingin membuat nuklir bukan hanya untuk energi atau hanya untuk listrik saja. Tapi menjadikan nuklir menjadi elemen untuk mensejahterakan masyarakat dan menjadikannya bernilai ekonomi yang berbasis inovasi, bukan hanya berbasis sumber daya alam,” kata Bambang dalam salah satu seminar online yang digelar oleh HIMNI.

Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro dalam seminar online HIMNI, Jumat (14/8/2020). -Foto Ranny Supusepa

Cara untuk melakukannya adalah dengan mengembangkan kebijakan yang tepat.

“Dengan mengembangkannya menjadi teknologi tepat guna, di mana nuklir bukan hanya sebagai senjata tapi merupakan suatu teknologi yang bermanfaat. Sehingga hal ini bisa semakin mendekatkan nuklir dengan masyarakat,” ujarnya.

Dan teknologi nuklir, lanjutnya, harus bisa memberikan nilai tambah dan lebih produktif pada produk jika dibandingkan sebelum menggunakan teknologi nuklir.

“Selain itu pengaplikasian teknologi nuklir juga harus mendukung substitusi impor dengan produk lokal. Contohnya, pada produk radioisotop dan radiofarmaka yang saat ini sudah ada tapi masih kurang dan masih impor,” kata Bambang lagi.

Atau pengembangan produk logam tanah jarang yang saat ini menjadi bagian penting dari industri elektronik.

“Dan nuklir juga harus menjadi frontier technology, menjadi teknologi terbaru yang lebih efisien dan aman. Contohnya, penggunaan thorium sebagai alternatif dari uranium,” imbuhnya.

Dengan mendorong aplikasi nuklir pada bidang pangan, kesehatan dan obat, transportasi dan energi, ungkap Bambang, akan menghilangkan resistensi negatif pada nuklir.

“Tonjolkan manfaat nuklir yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sehingga akan secara otomatis bisa menurunkan resistensi akan keberadaan nuklir,” pungkasnya.

Lihat juga...