Peningkatan Kasus Covid-19 di Jabar Cukup Tinggi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, menyampaikan dalam pekan terakhir, terjadi kenaikan kasus yang cukup tinggi di Provinsi Jawa Barat (Jabar) yaitu sebesar 50.6 persen. Dimana ada lima kabupaten/kota yang menyumbang kenaikan kasus tertinggi di Jawa Barat.

Di antaranya adalah sebagai berikut: Kota Bandung 40 kasus menjadi 155 kasus (287.5 persen), Kabupaten Bandung dari 45 kasus menjadi 119 kasus (164.4 persen), Cirebon dari 1 kasus menjadi 34 kasus (meningkat lebih dari 10 kali lipat), Kota Cimahi dari 7 kasus menjadi 35 kasus (400 persen) dan Kota Sukabumi dari 1 kasus menjadi 28 kasus (meningkat lebih dari 10 kali lipat).

Peningkatan kasus tersebut kata Dewi disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah laju penularan yang tinggi, munculnya klaster baru, dan jumlah pemeriksaan yang ditingkatkan.

“Biasanya kita bisa lihat dari tiga hal, yang pertama memang laju penularannya sedang tinggi disana, yang kedua ada klaster baru, dan yang ketiga memang jumlah testing yang juga ditingkatkan di Jawa Barat,” kata Dewi Nur Aisyah melalui keterangan di Jakarta, Selasa (11/8/2020).

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan adanya peringkat Covid-19 di kabupaten/kota di Jabar berdasarkan jumlah kumulatif kasus Covid-19 pada peringkat nasional. Kota Depok menempati posisi pertama di provinsi dan ke-17 di peringkat nasional.

Tidak hanya itu, berdasarkan analisis insiden kumulatif kasus per 100 ribu penduduk, Kota Depok masih menempati peringkat pertama provinsi dan peringkat ke-68 nasional.

Dewi juga menjelaskan bahwa analisis per 100 ribu penduduk digunakan untuk melihat laju penularan dan menyamakan perbandingan jumlah penduduk di masing-masing daerah.

“Kita bisa melihat laju penularan yang ada di sana. Misalnya begini, kita melihat hanya angka bulatnya saja, dua daerah sama-sama 100. Tapi ternyata jumlah penduduk di kota A ini ada seribu yang satu 10 ribu. Pasti kita akan melihat perbedaan. Di sini kita melihat berarti yang 100 kasus per 10 ribu, tentu jauh lebih kecil laju penularannya dibandingkan dengan yang seribu,” ungkapnya.

Selain itu, Dewi memaparkan angka kematian Covid-19 di Jabar berada di bawah angka kematian nasional dan rata-rata dunia, yaitu sebesar 3.01 persen. Angka kematian yang cukup baik menandakan penanganan yang baik pula sehingga angka kematiannya relatif rendah.

“Dari seluruh jumlah kasus positif, ini persentasenya 3.01 persen di bawah nasional, di bawah rata-rata dunia juga. Jadi memang kita melihat ada angka kematian yang cukup baik. Artinya apa, tertangani pasien-pasien yang ada di sana, sehingga angka kematiannya juga termasuk kecil,” jelasnya.

Pada dua pekan terakhir, lanjut Dewi data menunjukkan pergeseran zonasi risiko Covid-19 pada kabupaten/kota di Jawa Barat. Terjadinya penambahan pada zona risiko sedang, penurunan di zona risiko rendah, dan satu kabupaten/kota berada di zona risiko tinggi, yaitu Kota Depok. Dimana faktor yang menyebabkan tingginya kasus Covid-19 di Kota Depok adalah tingginya mobilitas penduduk ke daerah Jabodetabek.

“Mungkin ternyata memang yang di Depok ini juga cukup banyak yang memang positif karena mobilitasnya sangat tinggi, terutama ke daerah Jabodetabek itu sudah seperti satu area yang tidak terpisahkan,” sebutnya.

Lebih lanjut, Dewi memaparkan klaster-klaster yang ditemukan di Provinsi Jawa Barat. Terdata sebanyak 150 klaster dengan total kasus sebanyak 476 kasus. Peringkat klaster tertinggi Jabar berasal dari pemukiman, dan diikuti oleh fasilitas kesehatan, perkantoran, dan rumah ibadah. Dewi menegaskan bahwa data klaster dianalisis berdasarkan domisili, bukan berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Data ini memang harus kita analisis berdasarkan domisili. Bukan berdasarkan NIK. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengupayakan penanggulangan Covud-19 di berbagai bidang, seperti pelayanan kesehatan, sosial dan ekonomi, teknologi informasi, dan berupa kebijakan yang diterapkan,” tutupnya.

Lihat juga...