Pentingnya Upaya Pencegahan HIV/AIDS di Lokasi Kerja

Editor: Makmun Hidayat

Kepala Seksi Pengawasan Norma Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan dr. Muzakir, MKM saat seminar online yang diselenggarakan oleh Universitas YARSI, Jumat (14/8/2020). -Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di lingkungan kerja dinyatakan sangat penting untuk dilakukan, walaupun di masa pandemi Covid-19. Karena HIV/AIDS memiliki dampak yang sangat besar dalam kondusifitas kerja dan secara lebih luas pada perekonomian.

Kepala Seksi Pengawasan Norma Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Kementerian Ketenagakerjaan dr. Muzakir, MKM menyatakan Kemenaker memiliki peran yang sangat urgent dalam mencegah transmisi HIV/AIDS di lingkungan kerja, terutama di masa pandemi.

“Dampak HIV/AIDS bisa menyebabkan hilangnya sumber daya manusia terampil, selain itu biaya penangan dan perawatan tenaga kerja juga menjadi meningkat,” kata Muzakir saat seminar online yang diselenggarakan oleh Universitas YARSI, Jumat (14/8/2020).

Stigmatisasi dan diskriminasi yang sering dialami oleh para penderita HIV/AIDS juga berpotensi untuk mengganggu situasi dan hubungan kerja.

“Bagi para penderita, akan menyebabkan peningkatan angka mangkir kerja, yang berujung pada penurunan produktivitas dan kesejahteraan pekerja itu sendiri. Akhirnya akan mampu mengakibatkan peningkatan kemiskinan,” ujarnya lagi.

Secara luas, pada sisi perusahaan dan perekonomian, keberadaan pekerja HIV/AIDS akan menyebabkan penurunan investasi dan melemahnya penurunan ekonomi.

“Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di lingkungan kerja,” tandasnya.

National Project Coordinator of HIV AIDS International Labour Organization (ILO) Early Dewi Nuriana, S.Psi saat seminar online yang diselenggarakan oleh Universitas YARSI, Jumat (14/8/2020). -Foto Ranny Supusepa

Hal senada juga diungkapkan oleh National Project Coordinator of HIV AIDS International Labour Organization (ILO) Early Dewi Nuriana, S.Psi, yang menyatakan bahwa HIV/AIDS mampu berdampak pada tatanan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Kondisi HIV/AIDS ini berpotensi menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan dan perlindungan sosial. Jika kehilangan pekerjaan, maka akan mempengaruhi perekonomian rumah tangga, terutama bagi para perempuan dengan pekerjaan tidak proporsional yang tidak dibayar,” kata Early dalam kesempatan yang sama.

Dan jika ini terjadi, maka akan terbuka peluang terjadinya kekerasan berbasis gender dan kekerasan di rumah tangga.

“Bila program pencegahan dan layanan HIV melambat, diperkirakan penambahan kasus HIV akan semakin meningkat pada usia kerja atau produktif. Dan jika layanan obat tidak dikendalikan, maka ada potensi peningkatan kematian sebesar 20 persen bagi para penderita HIV,” paparnya.

Sehingga, lanjutnya, sangat penting untuk mempromosikan Rekomendasi ILO 200 terkait pencegahan HIV/AIDS di tempat kerja untuk mencegah makin tinggi kesenjangan.

“Yaitu pengetahuan pencegahan HIV, promosi akses pengobatan dan yang terpenting adalah promosi anti stigma dan diskriminasi. Karena stigma dan diskriminasi akan semakin mempersulit proses edukasi dan pengobatan bagi para penderita serta upaya mencegah timbulnya kasus HIV baru,” pungkasnya.

Lihat juga...