Peralihan dari Kantong Plastik di Pasar Belambangan, Belum Maksimal

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Upaya penggunaan kemasan ramah lingkungan  jadi cara meminimalisir sampah plastik. Hersianti, salah satu pedagang sayuran di pasar tradisional menyebut peralihan kantong plastik sekali pakai ke wadah kain masih belum maksimal diterapkan masyarakat.

Imbasnya ia tetap menyediakan kantong plastik sebagai kemasan barang belanjaan. Pedagang di pasar tradisional Belambangan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu menyebut menjual daun pisang. Bahan kemasan makanan tersebut masih jadi pilihan bagi warga yang akan membuat kue tradisional. Meski kampanye penggunaan kantong plastik terus digencarkan namun masih jarang konsumen membawa kantong belanja dari rumah.

Sebagian konsumen menurutnya mulai menggunakan kantong belanja dari kain dan bambu. Penggunaan kantong dari rumah menurutnya masih dilakukan oleh sebagian konsumen. Sebagai pengganti plastik kemasan sayuran yang dijual memakai daun pisang. Penggunaan kantong plastik yang terbatas disebutnya ikut mempengaruhi sampah yang dibuang.

“Semakin banyak konsumen yang datang ke pasar membawa kantong belanja akan meminimalisir penggunaan sampah plastik meski belum bisa diterapkan seluruhnya,” terang Hersianti saat ditemui Cendana News, Rabu (12/8/2020).

Hersiati, salah satu pedagang sayuran menjual daun pisang kepok yang dimanfaatkan sebagai kemasan makanan, Rabu (12/8/2020). -Foto Henk Widi

Penggunaan kemasan plastik masih digunakan oleh sejumlah pedagang makanan di pasar tersebut. Hasanah, salah satu pedagang tempe dan tahu menyebut kemasan plastik masih umum digunakan karena lebih praktis. Bagi sejumlah produsen tempe penggunaan kemasan daun pisang hanya diterapkan pada jenis tempe kedelai.

Kemasan tempe kedelai dengan daun pisang menurutnya bisa lebih praktis. Sebab saat dibuang ke tempat sampah daun mudah terurai. Penggunaan kemasan plastik yang tetap dipertahankan bagi sebagian produsen dominan untuk alasan efesiensi. Sebab stok kemasan plastik selalu tersedia. Sementara kemasan dari daun pisang saat kemarau sulit dicari.

“Pedagang bukan enggan memakai kemasan ramah lingkungan tapi karena sisi kepraktisan,” terang Hasanah.

Penerapan kedisiplinan masyarakat mengurangi kantong plastik diakuinya masih belum maksimal. Sebab kantong berbayar Rp200 hanya diterapkan pada sejumlah toko modern. Pada sejumlah pasar tradisional kantong plastik masih dominan digunakan karena kelonggaran. Sejumlah pedagang memilih masih menggratiskan kantong plastik untuk memudahkan pelanggan.

Penerapan kantong berbayar disebutnya masih sulit dilakukan. Sebab jika kebijakan tersebut diterapkan akan berimbas kesulitan bagi pedagang dan pembeli. Kesadaran membawa kantong belanja dari rumah menurutnya harus melibatkan berbagai pihak. Sebab sosialisasi pengurangan pemakaian kantong plastik hanya dilakukan pada pasar modern.

“Kemasan tanpa plastik pada sejumlah produk makanan juga masih sulit diterapkan kecuali pada makanan tradisional,”paparnya.

Linawati, warga Desa Pasuruan menyebut daun pisang masih bisa jadi alternatif kemasan makanan ramah lingkungan. Pada sejumlah makanan tradisional ia masih memakai daun pisang. Lemper,lemet,lontong dan kue tradisional menurutnya masih menggunakan daun pisang. Pemanfaatan hasil kebun untuk kemasan makanan itu sekaligus menghemat pengeluaran.

Penggunaan kemasan daun pisang menurutnya ikut menjaga kebersihan lingkungan. Sebab sampah dari daun pisang masih bisa diurai. Sementara kemasan jenis kantong plastik kerap butuh waktu lama terurai. Penggunaan kemasan ramah lingkungan masih dipertahankan oleh warga di pedesaan karena lebih murah. Sebab daun pisang bisa diperoleh tanpa harus membeli dan mudah terurai secara alami.

Lihat juga...