Peran Aktif Dokter di Media Sosial Dapat Cegah Penyebaran Hoaks Covid-19

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Penyebaran informasi terkait Covid-19 melalui platform media sosial tidak dapat terhindar dari adanya hoaks. Untuk mencegah diperlukan keaktifan para dokter dan peneliti untuk terjun langsung mengedukasi dan memberikan informasi ke dalam ekosistem media sosial.

“Saya ada buat satu panduan, judulnya Panduan Penggunaan Media Sosial untuk Dokter. Jadi, kita butuh lebih banyak scientist-scientist (dan dokter) yang aktif di media sosial untuk dapat memberikan informasi secara langsung dan mudah dipahami oleh masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa lewat keterangan Tim Komunikasi Satgas Covid-19 di Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Menurut Hariqo, kehadiran peneliti dan dokter di ekosistem media sosial dapat menciptakan interaksi dengan pengguna lain yang efektif dalam mencegah penyebaran hoaks.

Seperti, seorang dokter bikin akun media sosial dan terjadi tanya jawab disana, ,ini akan lebih dipahami si pengguna media sosial ketimbang dia membaca berita maupun informasi yang tersebar di media sosial yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Edukasi secara sederhana ini dapat menciptakan keinginan masyarakat untuk turut serta menyebarkan informasi yang benar sehingga dapat menekan potensi tersebarnya hoaks. Interaksi-interaksi seperti itu yang membuat masyarakat semakin teredukasi dengan Covid-19 dan mereka dengan sukarela akan menjadi buzzer (mendengungkan informasi) dari scientist-scientist,” ujarnya.

Efektivitas dari kehadiran para dokter dan peneliti dirasakan langsung oleh entrepreneur muda Faza Fairuza yang ingin tahu seberapa efektif penggunaan surgical gloves untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Lihat juga...